Jadi Primadona di Garut, Icip Nikmatnya Abon Sapi Mak Nio yang Selembut Kapas
Merdeka.com - Selain dendeng sapinya yang terkenal nikmat, home industri Mak Nio asal Garut juga membuat varian olahan daging sapi lain yang tak kalah digemari, yakni abon sapi suwir.
Pengelola Abon Mak Nio, Adam Jatisunda mengungkapkan, abon sapi Mak Nio sama menggodanya dengan dendeng sapi. Ia merincikan, jika abon suwir Mak Nio begitu lembut, selembut kapas dengan seratnya yang halus dan tak nyangkut di mulut.
Belum lagi rasa rempahnya yang pas, membuat abon buatannya juga tak kalah bersaing sejak dekade 60-an. Mak Nio hanya memilih daging sapi langsung dari tempat potong hewan, bukan yang dibekukan di freezer.
“Selain proses pengolahannya yang masih tradisional sama dengan yang pernah Ma Nio ajarkan, kami pun pantang menggunakan bahan pengawet,” ujar Adam kepada wartawan, dilansir Merdeka dari Liputan6, Rabu (02/06).
Awet Hingga Satu Tahun

Abon Sapi Mak Nio Garut
©2021 Liputan6/Merdeka.com
Keunggulan dari produk abonnya, yakni terletak pada pengolahannya. Adam menjelaskan jika Mak Nio dari dulu tak pernah mengajarkannya untuk menambahkan bahan pengawet di produknya.
Ia hanya mengandalkan rempah tradisional sebagai pengawet alami seperti daun jeruk, daun salam, serai, hingga minyak goreng, sehingga abon bisa tahan hingga satu tahun lamanya.
"Tapi biasanya jarang ada yang sampai berbulan-bulan, sebab pelanggan kami biasanya langsung memesan kembali (saat habis),” kata Adam.
Tidak Menggunakan Campuran Lain
Adam menambahkan, keunggulan lain dari produk abonnya adalah terletak dari bahannya yang hanya menggunakan 100 persen daging sapi murni.
Ia menyebut, Mak Nio juga sangat anti menggunakan produk campuran di produk homemadenya.
“Karena mungkin bahan dasarnya juga sama dari daging sapi, akhirnya emak mencobanya, dan ternyata diterima dengan baik, dan Mohon maaf biasanya abon yang lain kadang dicampur serat kelapa, kalau abon Ma’ Nio 100 persen suwiran daging sapi pilihan,” kata dia.
Cemerlang Sejak Awal

Olahan Paru Mak Nio Garut
©2021 Liputan6/ Merdeka.com
Adapun menurut cerita yang diperoleh dari Abah Nio, sang ayah yang merupakan cucu dari Ma Nio, produksi Abon Mak Nio memang terbilang cemerlang sejak awal dibuka.
Kata dia, dahulu sistem penjualan hanya mengandalkan secara berkeliling. Namun lambat laun usaha tersebut terus naik, hingga bisa membuka gerai seperti sekarang.
“Awalnya dijual secara keliling dari kampung ke kampung, namun setelah itu pelanggan datang sendiri ke sini,” ujar dia, sambil menunjukan jari tangannya di lokasi gerai Mak Nio saat ini, Jalan Cimanuk, kawasan Sanding Lebak tepatnya samping Jembatan Cipeujeuh, Kelurahan Muara Sanding, Garut Kota.
Tak Terpengaruh Pandemi
Bahkan ketika datangnya wabah Pandemi Covid-19 secara global, ia menambahkan bahwa usaha penganan Mak Nio tidak terlalu terpengaruh hingga omzetnya bisa naik dua kali lipat. “Mungkin banyak orang yang malas membuatnya, sehingga lebih praktis beli langsung,” kata dia.
Saat ini harga abon Mak Nio dalam kemasan 80 gram dijual seharga Rp 50 ribu, sementara untuk bentuk curah, abon biasa dijual seharga Rp440 ribu per kilogram.
“Kalau dendeng kami biasa jual di harga Rp400 ribu per kilogram,” kata dia.
Selain abon sapi dan dendeng, Adam menyatakan, industri pengolahan daging Mak Nio juga mulai menjual produk paru goreng sapi, kemudian abon ayam dan abon kalkun.
“Kami menjual paru goreng dihargai Rp500 ribu per kilogram, abon ayam Rp320 ribu per kilogram dan abon ayam kalkun Rp500 ribu per kilogram,” kata dia.
Lokasi Gerai Mak Nio

Lokasi gerai Mak Nio
©2021 Liputan6/ Merdeka.com
Untuk lokasi gerai Mak Nio sendiri berada di Jalan Cimanuk, kawasan Sanding Lebak, Kabupaten Garut.
Adam menambahkan rincian tempat yakni tepatnya di samping Jembatan Cipeujeuh, Kelurahan Muara Sanding, Garut Kota.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya