Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jadi Bukti Kesetiaan pada Keluarga, Begini Makna Bercocok Tanam bagi Perempuan Baduy

Jadi Bukti Kesetiaan pada Keluarga, Begini Makna Bercocok Tanam bagi Perempuan Baduy Kampung Baduy kala pandemi. ©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Bagi masyarakat Baduy Luar di Banten, bercocok tanam bukan sekadar upaya untuk bertahan hidup maupun kebutuhan ekonomi semata. Mereka menjalankan kegiatan bertani sebagai bentuk kasih sayang serta kesetiaan kepada suami dan keluarga di rumah.

Munah (45), perempuan Baduy yang ditemui di lahan kebun milik Perum Perhutani di Blok Cicuraheum Kabupaten Lebak, Minggu (3/10) mengatakan, bertanam adalah tradisi yang dilahirkan turun temurun. Kebiasaan bercocok tanam atau ngahuma disesuaikan dengan kalender adat di Kampung Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak .

"Kami bersama suami merasa senang memasuki masa tanam," terang Munah kepada wartawan, mengutip Antara.

Rela Berjalan Kaki Belasan Kilometer

kampung baduy kala pandemi

©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

Dalam pelaksanaan tradisi bertani, para perempuan Baduy berjalan kaki belasan kilometer demi menuju lokasi ladang yang terletak di sekitar daerah perbatasan.

Para perempuan Baduy memiliki jadwal yang sudah ditetapkan untuk mengelola tanaman padi dan tanaman palawija. Biasanya komoditas tersebut akan ditanam saat memasuki awal bulan Oktober dan baru bisa dipanen pada April 2022 atau enam bulan ke depan.

Sebelumnya, lahan pertanian sudah dipersiapkan suami mereka, sehingga para istri tinggal merawat dan memanennya di waktu yang sudah terjadwal.

Simbol Kesetiaan kepada Suami

kampung baduy kala pandemi

©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

Menurut Munah, umumnya perempuan Baduy Luar melakukan aktivitas bertani untuk membantu suami di kebun ladang. Dan itu dianggap sebagai bentuk kesetiaan kepada suami dan keluarga sejak awal menikah.

Kaum perempuan Baduy wajib membantu suami di ladang agar mencapai keluarga yang bahagia dan sejahtera. Sebab, penghasilan ekonomi masyarakat Baduy dari hasil bercocok tanam.

Bahkan, ada yang tinggal di ladang selama enam bulan bersama suami mengingat perempuan Baduy tidak ada yang menganggur jika sudah memiliki suami.

"Kami menjalani tanam untuk kesejahteraan keluarga juga kesetiaan dalam membina rumah tangga," kata Munah.

Miliki Teknik Menanam Tertentu

Sebagai masyarakat yang ahli di bidang pertanian, para perempuan Baduy cukup cermat memanfaatkan cuaca terlebih di masa penghujan.

Biasanya musim basah tersebut akan mempermudah proses menanam untuk memasukan butiran gabah ke dalam tanah atau yang biasa disebut "ngaseuk" dengan jarak yang telah ditentukan agar bisa tumbuh subur. 

Mereka juga akan membuat lubang lainnya di tanah untuk ditanami pisang, palawija dan lainnya. Bertani di musim hujan dianggap tepat, lantaran bisa menghasilkan panen yang melimpah tanpa serangan penyakit tanaman.

Sementara untuk pupuk organik, petani Baduy akan memanfaatkan sampah-sampah serta semak belukar di area yang telah melalui proses pembakaran sebelumnya untuk ditaburkan.

"Kami melakukan gerakan tanam itu dan dibantu bersama istri, " kata Pulung (55), petani Baduy.

 

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP