Cara Unik Suku Baduy Cegah Krisis Pangan, Pakai Metode Pertanian Tumpang Sari
Merdeka.com - Hidup berdampingan dengan alam membuat masyarakat di pemukiman adat Baduy, pedalaman Kanekes, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten mampu memaksimalkan kemandirian pangan hanya dengan bercocok tanam menggunakan tumpang sari.
Bahkan ketika banyak daerah dihantam gelombang pandemi Covid-19, masyarakat di sana tidak begitu merasakan dampaknya. Termasuk krisis pangan dan atau kelaparan.
Pulung (65) seorang petani Baduy saat ditemui wartawan beberapa waktu lalu mengatakan, kebanyakan metode pertanian di kampungnya memang memanfaatkan penanaman beberapa jenis komoditas di satu lahan yang sama seperti palawija, hortikultura dan tanaman keras yang bisa mendatangkan pemasukan ekonomi.
"Dengan pola tanam tumpang sari itu bisa terpenuhi ketahanan pangan juga meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga," terangnya, saat melaksanakan gerakan tanam di perbatasan kawasan Baduy, melansir Antara Jumat (15/10)
Dilakukan Secara Berpindah-pindah

Komoditas pertanian di Baduy ©2021 Youtube Akosarka Baduy /editorial Merdeka.com
Biasanya menurut Pulung, pertanian ladang masyarakat Baduy selalu berpindah-pindah lokasi dan membuka lahan baru di perbukitan di kaki Gunung Kendeng, Banten. Luasnya pun bisa mencapai satu hingga dua hektar, di tanah milik sendiri maupun menyewa dari orang lain.
Selain itu, tak sedikit juga warga Baduy yang menggarap lahan milik Perum Perhutani dengan cara bagi hasil setelah panen. Menurut Pulung, dengan melakukan kegiatan berpindah pindah tanam tersebut diklaim mampu memberikan kesuburan pada tanah dan tanaman.
"Kami melaksanakan gerakan tanam awal Oktober dan panen April 2022," katanya, sembari menjelaskan jika saat ini sudah masuk musim tanam, sesuai kalender adat.
Tanaman Diberi Pupuk dari Ilalang
Pertanian ladang di adat Baduy memang sejak zaman buhun selalu memanfaatkan konsep ramah lingkungan, termasuk dalam hal penyuburan lahan dan produk tani.
Pulung mengungkapkan, ia bersama warga adat Baduy lain tidak pernah sekalipun menggunakan pupuk kimia. Untuk menunjang pembibitan sampai proses panen, mereka menggunakan olahan abu sisa pembakaran ilalang dan potongan kayu ketika membuka lahan.
"Kami melaksanakan gerakan tanam awal Oktober dan panen April 2022" jelas Pulung.
Menyimpan Padi di Leuit
Kemudian metode lainnya yang digunakan untuk mencegah kelaparan saat paceklik adalah dengan memanfaatkan leuit, atau rumah padi untuk menyimpan hasil panen dalam waktu yang lama.
Selama ini, leuit menjadi salah satu penolong warga ketika terjadi bencana dalam waktu yang lama, karena hasil panen 30 tahun lalu masih tersimpan dan bisa dimanfaatkan kembali saat dibutuhkan.
Senada dengan Pulung, Tetua Adat Baduy yang juga Kepala Desa Kanekes Jaro Saija menjelaskan, metode tumpang sari dan penyimpanan padi di leuit menjadi kunci kemandirian pangan di wilayahnya.
"Kami secara serentak memasuki tanam padi huma dan tanaman lainnya di ladang- ladang dengan pola tanam tumpang sari itu, sehingga warga tidak ada yang beli beras " kata Jaro Saija.
Menyimpan Hasil Panen sebagai Solusi saat Krisis Pangan

Warga Baduy di Kabupaten Lebak tengah menanam palawija di lahan perbukitan ©2021 Youtube Akosarka Baduy /editorial Merdeka.com
Strategi menyimpan hasil panen di leuit dan bertanam tumpang sari juga dianggap sebagai solusi krisis pangan mana kala keadaan sedang paceklik seperti pandemi kemarin. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lebak Abdul Rohim mengatakan, masyarakat Suku Baduy yang hidup di pedalaman daerah itu tidak pernah mengalami kelaparan karena mereka selalu menyimpan cadangan panen. Rohim menjelaskan, letak leuit yang strategis dan berada di belakang rumah keluarga Baduy, membuat anggota keluarga yang akan memasak di dapur mudah untuk mengambilnya. Berdasarkan catatanya, saat ini terdapat setidaknya 4000 leuit dengan rata-rata menghasilkan 4 ton per leuit dan diakumulasikan menjadi 160 ribu ton. "Semua warga Baduy itu memiliki leuit antara satu sampai empat,sehingga persediaan pangan melimpah, Kami belum pernah mendengar masyarakat Baduy mengalami krisis pangan," katanya.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya