Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah Fatmawati Sukarno Ketakutan, Istana Dikelilingi Para Pemuda Garang

Kisah Fatmawati Sukarno Ketakutan, Istana Dikelilingi Para Pemuda Garang Bung Karno dan Fatmawati. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Merasa selalu diincar tentara Jepang, Sukarno memboyong seluruh keluarganya ke Bogor. Sempat diungsikan ke Istana Bogor, sebelum kemudian pindah ke rumah seorang tokoh nasionalis asal Bogor.

Penulis: Hendi Jo

Usai berlangsungnya demonstrasi mendukung kemerdekaan Indonesia di Lapangan Ikada pada 19 September 1945, pemerintah militer Jepang berupaya menangkap para pemuda yang berada di belakang peristiwa itu.

Tidak cukup hanya menciduk para pimpinan pemuda dari kelompok Menteng 31, pihak Kenpeitai pun mencari celah untuk 'mengamankan' Sukarno.

Dari hari ke hari, pencarian semakin intensif. Situasi semakin gawat. Untuk menghindar dari perburuan Kenpeitai (Polisi Militer Jepang), saat menjelang malam tiba, Sukarno sekeluarga harus mencari tempat-tempat perlindungan.

"Kalau sudah magrib, aku berpisah dengan Bung Karno. Bung Karno jalan sendiri, sedangkan aku bersama ibuku pergi untuk menginap di tempat kenalan. Biasanya kami dikawal oleh sekelompok anggota Barisan Pelopor yang bersenjatakan pistol dan golok," kenang Fatmawati dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno.

Di Antara Pemuda Berpenampilan Garang

Kadang-kadang Fatmawati harus menyamar sebagai tukang pecel, sedangkan Bung Karno menyamar sebagai tukang sayur dengan gaya berjalan pincang. Terus saja seperti itu hampir tiap waktu.

Suatu hari, Fatmawati memberi usul kepada Sukarno untuk pergi ke Bogor. Usul itu disetujui. Hari itu juga, Bung Karno membawa Fatmawati, Guntur dan kedua orangtua Fatmawati yakni Hasan Din dan Siti Chadijah, langsung ke Istana Bogor yang tengah dikuasai oleh Lasjkar Barisan Penggempoer Istimewa pimpinan A.K. Joesoef.

Para pemuda berpenampilan angker dan seram itu bersilewaran di Istana Bogor sambil kerap berteriak-teriak. Mereka kadang berpesta dengan memburu rusa-rusa yang hidup bebas di halaman Istana Bogor lalu mengolahnya menjadi makanan. Fatmawati dan kedua orangtuanya tak terbiasa dengan 'lingkungan' seperti itu. Mereka lantas meminta untuk pindah ke luar kawasan Istana Bogor.

"Aku ingin bermalam di luar Istana, tapi waktu aku melihat sendiri orang diusir dari rumah tinggalnya hanya untuk menampung kami, aku membatalkan niatku itu," tutur Fatmawati.

Tak Nyaman di Istana

Merasa tak ada jalan lain, Fatmawati lalu berembuk lagi dengan Bung Karno. Dia kemudian meminta supaya dikembalikan saja ke Jakarta. Bung Karno mengamini. Namun dia mengingatkan situasi Jakarta tidak aman untuk Guntur dan kedua mertuanya. Akhirnya diputuskanlah untuk sementara meninggalkan ketiganya di Bogor. Atas nasihat Gatot Mangkoepradja: Guntur, Hasan Din dan Siti Khadijah akan dititipkan di rumah Harun Kabir, seorang nasionalis asal Bogor

Menurut sejarawan Harry A. Poeze, dipilihnya rumah Harun Kabir bukanlah suatu keputusan yang tanpa pertimbangan. Selain tempatnya nyaman dan luas, dari segi keamanan, rumah Harun Kabir jelas terjamin karena dijadikan sebagai markas besar Lasjkar Rakjat Tjiwaringin 33, sebuah milisi pro Republik.

Namun menurut Tina Kabir, salah satu putri Harun Kabir, ada satu hal lagi yang menyebabkan Sukarno bisa mempercayakan keluarganya untuk tinggal di Jalan Ciwaringin No.33. Yaitu karena sudah adanya kedekatan secara emosional sebelumnya. Secara pribadi, Harun Kabir bukanlah sosok yang asing bagi Bung Karno.

Syahdan, ketika Abung Kabir (ayahanda Harun Kabir) ditugaskan sebagai pengawas salah satu perkebunan di Blitar pada tahun 1930-an, dia sempat membawa Mintarsih (ibunda Harun Kabir) tinggal di Blitar. Di kota tersebut, mereka tinggal bertetangga dengan orangtua Sukarno (Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai).

"Kedua keluarga itu menjalin persahabatan yang akrab, terutama antara Enin (Mintarsih) dengan Ibu Ida Ayu Nyoman Rai," tutur Tina dalam sebuah catatan kecil mengenai perjuangan ayahnya berjudul 'Dini Hari yang Tak Terlupakan'.

Saat berkunjung ke Blitar, Harun sempat dikenalkan dengan Bung Karno yang juga saat itu sedang ada di rumah orangtuanya. Karena merasa cocok dan satu pemikiran, keduanya lantas menjalin persahabatan yang cukup akrab hingga Bung Karno kemudian diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda ke Bengkulu.

Bisa jadi, selama berhubungan dengan Bung Karno itu, Harun Kabir banyak menyerap ide-ide nasionalisme dan perlunya bangsa Indonesia bebas dari belenggu kolonialisme. Keyakinan tersebut semakin tebal manakala Harun kerap bersinggungan dengan Gatot Mangkoepradja yang tak lain adalah kawan seperjuangan Bung Karno di PNI.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP