Ini Besaran Harga Tiket Kereta Mudik Zaman Belanda
Merdeka.com - Angkutan umum kereta api sudah sejak lama menjadi pilihan untuk mudik Lebaran. Bahkan, sejak masa kolonial Pemerintahan Hindia Belanda. Kereta api menjadi moda transportasi utama.
Pada masa Hindia Belanda, tiket kereta api dibedakan menjadi beberapa golongan. Golongan 1 diperuntukkan bagi orang Eropa. Golongan 2 untuk golongan asing (Cina dan Arab). Terakhir, golongan 3 untuk pribumi.
Harga tiket dan fasilitas dari tiap golongan pastinya berbeda-beda. Harga tiket kereta api pada masa Hindia Belanda tahun 1889 naik di saat-saat mudik lebaran.
Tiket kereta pada saat itu melonjak dengan kenaikan harga f 1 (satu gulden) pada setiap satu kilometer.
"Tiket golongan 1 dijual dengan harga 6 cent, golongan dua dijual dengan harga 4 cent, dan golongan 3 dengan harga paling rendah yaitu 1,6 cent," tulis laporan Staatsspoorwegen op Java: Bepalingen en Tarieven.
Manajemen Penumpang
Boleh dikatakan, sistem manajemen penumpang angkutan pada masa Pada masa Hindia Belanda lebih baik ketimbang masa pemerintahan Indonesia tahun 1970an.
"Di Bandung contohnya, penumpang yang memiliki dan tidak memiliki tiket tidak dapat dibedakan karena terlalu padat, apalagi di saat-saat lebaran. Kebijakan untuk para pengantar pun tidak bagus, alhasil banyak pengantar penumpang yang terbawa kereta," tulis Syarifani dalam Jurnal Historia Madani berjudul Kereta Api dan Tradisi Mudik Lebaran di Bandung.
Sedangkan pada masa Hindia Belanda jauh lebih baik. Penumpang yang memiliki tiket akan diatur dari satu stasiun ke stasiun berikutnya. Bagi yang tidak memiliki tiket, tidak boleh berada di sekitar peron.
Pembagian golongan pada sistem Hindia Belanda juga menjadi salah satu faktor sistem pertengahan tahun 1800an jauh lebih baik ketimbang tahun 1970an.
Reporter Magang: Ita Rosyanti
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya