Yuli Riswati, suarakan hak buruh migran lewat tulisan
Merdeka.com - R.A Kartini adalah salah satu pahlawan wanita yang dikenal melalui jasanya sebagai pelopor kebangkitan wanita Indonesia. Kartini mungkin tak sama dengan pahlawan wanita lain yang turut berjuang di medan perang. Kartini berjuang dengan caranya sendiri, melalui tulisan.
Tulisan, sarana yang sama juga digunakan oleh salah satu wanita Indonesia untuk menyuarakan hak-haknya sebagai buruh migran di Hong Kong. Dia adalah Yuli Riswati, salah seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang saat ini bekerja di Hong Kong.
Dalam benak kebanyakan orang, menjadi TKW identik dengan bekerja di luar negeri dan mendapatkan bayaran yang besar. Namun faktanya tak demikian. Kepada merdeka.com Yuli menjelaskan berbagai macam rintangan yang dihadapinya selama menjadi seorang buruh migran di negara orang.
Menjadi TKW sama sekali berbeda dengan pikiran banyak orang yang beranggapan bahwa menjadi buruh migran bisa menghasilkan uang banyak. Sebagai seorang TKW, Yuli tentu mengalami beratnya menjadi seorang buruh migran dengan jam kerja 24 jam non-stop. Belum lagi pengorbanan paling besar yang dilakukannya, yaitu keharusan berpisah dengan keluarga di Jember dan anak semata wayangnya. Bahkan, dia juga pernah dituduh mencuri dan hampir diperkosa oleh majikannya ketika awal bekerja di Hong Kong pada tahun 2008.
Pengalaman tersebut membuatnya memutuskan untuk bergabung bersama serikat buruh migran Indonesia di Hong Kong, yaitu Indonesian Migrant Workers Union. Selama bergabung dan menjadi tim advokasi di IMWU, mata Yuli semakin terbuka terhadap keadaan buruh migran yang ada di Hong Kong. Ternyata masih banyak buruh migran yang nasibnya lebih buruk daripada yang telah dialaminya. Hal inilah yang membawa Yuli pada kegiatan menulis.
Awalnya, menulis dilakukan oleh Yuli sebagai bentuk dari terapi. Untuk membebaskan jiwanya dari semua tekanan dan masalah yang dihadapinya. Selain itu, menulis juga dilakukan Yuli untuk merekam apa yang terjadi di sekitarnya. Sebagai seorang wanita dan seorang buruh migran, menulis adalah caranya untuk bersuara kepada dunia. Lantas, kenapa tulisan dipilih sebagai wadah menyuarakan hak mereka sebagai TKW?
"Jika kami sebagai aktivis buruh hanya demo dan berteriak saja di depan gedung KJRI, maka hanya didengar orang di sekitar tempat demo. Kalaupun ditulis media, maka yang ditulis hanya beberapa persen saja," ungkap wanita penyuka warna ungu ini lewat chatting dengan merdeka.com (20/04).
Demo dan teriakan saja tak cukup. Untuk itulah, Yuli bertekad untuk menyuarakan hak-hak buruh migran melalui tulisan. Tulisan tangan Yuli mengenai buruh migran pernah dimuat di KABAR buletin IMWU serta menjadi juara harapan 1 di Festival Sastra Migran Indonesia ke-1 yang diadakan oleh FLP Hong Kong pada tahun 2010. Situs jejaring sosial seperti Facebook juga semakin melancarkan langkah Yuli untuk menulis dan menyuarakan pikirannya pada khalayak yang lebih luas.
Meski begitu, usaha Yuli untuk terus menulis bukan tanpa hambatan. Sejak 2010, dia harus belajar menulis mulai dari nol dan baru bisa menggunakan komputer pada tahun 2011. Sebagai TKW yang tetap memiliki beban kerja 24 jam sehari, Yuli juga harus bisa 'mencuri waktu' untuk menulis karena pekerjaannya selalu diawasi oleh CCTV di rumah majikan. Berbagai cara dilakukan, mulai dari menulis sambil memasak, di kamar mandi, di dalam selimut, bahkan harus mengorbankan waktu untuk tidur.
Namun perjuangan tersebut tak sia-sia. Wanita yang menggunakan nama pena Arista Devi ini berhasil menorehkan berbagai prestasi dalam bidang kepenulisan. MUlai dari juara I lomba cerpen ATKI & PILAR 2011, juara I lomba menulis puisi IMWU 2012, serta beberapa cerpennya yang berhasil masuk dalam banyak buku antologi. Tak hanya itu, opini, artikel, dan esainya yang 80 persen selalu berusaha mengangkat keadaan buruh migran juga pernah dimuat di beberapa koran dan majalah berbahasa Indonesia di Hong Kong. Puisinya juga pernah dimuat di Sumut Post dan harian Mimbar Umum.
Salah satu pencapaian besar Yuli adalah terbitnya buku solo miliknya yang berjudul "Empat Musim Bauhinia Ungu" (Leutika Prio, 2013). Buku yang diterbitkan secara gratis oleh Indie Leutika Prio ini berisi semua cerpen yang dibuat berdasarkan pengalaman nyata yang pernah dialami atau ditemui olehnya selama bekerja di Hong Kong. Kini, buku kumpulan cerpen tersebut tengah berada dalam proses penerjemahan ke dalam bahasa Inggris. Dengan bantuan warga lokal Hong Kong yang memiliki kepedulian pada TKW, Empat Musim Bauhinia Ungu direncanakan untuk diterbitkan di Hong Kong.
Yuli saat launching buku "Empat Musim Bauhinia Ungu" di Hong Kong
Empat Musim Bauhinia Ungu adalah salah satu jejak perjuangan yang ditorehkan Yuli, baik sebagai seorang buruh migran maupun sebagai Arista Devi, seorang penulis. dalam upayanya menyuarakan hak-hak buruh migran di Hong Kong. Goresan pena dan tulisannya belum akan berhenti untuk terus mengabarkan pada dunia mengenai keadaan para pahlawan devisa yang terus berjuang, sembari merindukan kampung halaman. (mdk/kun)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya