Sejarah nama Gang Dolly yang melegenda
Merdeka.com - Dolly, yang menyala-nyala di puncak kota,
yang sembunyi di sudut jalang jiwa
pria Surabaya.
Dulu, di temaram jambon gang sempit itu,
aku mursal masuk, keluar, dan utuh
sebagai lelaki.
(Si Pelanggan - Silampukau)
Dolly merupakan salah satu tempat yang pernah menjadi pusat prostitusi terbesar di Indonesia atau bahkan di Asia Tenggara. Saking populernya, nama Dolly bahkan seakan sudah menjadi sinonim dengan prostitusi padahal kawasan Dolly sesungguhnya hanya berupa satu ruas gang saja. Namun gang ini mampu berpengaruh ke wilayah Jarak yang ada di sekitarnya sehingga seluruh wilayah tersebut menjadi terkenal dengan nama Dolly.
Pada masa jayanya, terdapat setidaknya 9.000 PSK di kawasan tersebut. Terdapat banyak sekali pria hidung belang yang berkunjung ke wilayah tersebut sekedar untuk mencari kenikmatan semalam. Bahkan di kala malam minggu disebut bahwa kondisi wilayah Dolly dan sekitarnya menjadi sangat ramai dan terdapat ribuan pria yang lalu lalang di tempat tersebut.
Secara administratif, komplek lokalisasi ini berada di Jalan Jarak, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya. Dalam buku tulisan Purnawan Basundoro berjudul "Merebut Ruang Kota: Aksi Rakyat Miskin Kota Surabaya 1900-1960an" disebutkan bahwa pada awalnya wilayah tersebut sebelumnya merupakan makam Tiong Hoa.
Pada tahun 1959, makam China di wilayah Girilaya yang dekat dengan Jarak dan Putat Jaya mulai diduduki oleh pemukiman liar. Selain itu, sering terjadi juga penjarahan liar oleh warga miskin di sekitar terhadap makam-makam yang ada. Pada akhirnya, makam China Girilaya pun ditutup seiring dengan tumbuhnya pula rumah-rumah bordil yang dikelola para germo untuk pelacuran.
Setelah penutupan makam ini, maka wilayah sekitar yang meliputi Putat Jaya dan Jarak menjadi kampung padat penduduk. Pada tahun 1960-an, muncul seorang mantan pelacur bernama Dolly Khavit di wilayah tersebut. Selanjutnya di wilayah Kupang gunung Timur I dia mendirikan empat wisma untuk tempat bersenang-senang pria hidung belang. Keempat wisma tersebut diberi nama Wisma T, Sul, NM, dan MR.
Di empat wisma tersebut, tante Dolly mengumpulkan wanita-wanita cantik yang mau 'dijual' ke lelaki hidung belang. Usaha yang dirintisnya tersebut ternyata sangat laris sehingga akhirnya muncul berbagai wisma lain di sekitar wilayah tersebut. Wilayahnya pun semakin meluas hingga ke wilayah Jarak. Untuk mengabadikan jasa tante Dolly yang telah menghidupkan wilayah tersebut, maka kawasan itu mendapatkan nama baru yaitu Dolly.
Sejak saat itu hingga sekarang, nama Dolly selalu identik dengan tempat lokalisasi terbesar di Surabaya. Bahkan walau saat ini telah satu tahun berlalu sejak penutupannya, wilayah itu masih dikenal dan dikenang banyak orang sebagai Dolly.
(mdk/RWP)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya