Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

[Part 2] Selembar cinta dalam buku harian nenek

[Part 2] Selembar cinta dalam buku harian nenek Ilustrasi buku harian tua. ©patrickrhone.com

Merdeka.com - Sebuah surat yang datang dari pria bernama Prastowo kepada nenekku pada tahun lalu tentu saja membuatku sangat kaget ketika menemukannya. Setidaknya berdasar yang kutahu di buku harian nenek mereka sudah tidak bertemu selama 55 tahun.

Selain itu pernikahan antara nenek dan kakek yang berlangsung selama lebih dari 40 tahun telah membuatku yakin bahwa nenek selalu mencintai kakek dan tak pernah kutahu dia memiliki teman bernama kakek Pras atau siapa pun itu. Setidaknya itulah yang ku tahu dan ku yakini.

Namun dalam surat dari seseorang yang menganku bernama Prastowo itu aku tahu bahwa masih ada perasaan cinta yang terpendam dan masih ingin diungkapkan. Seperti lazimnya, surat itu dibuka dengan sebuah pembukaan yang cukup hangat namun terkesan intim menurutku. Ditulisnya "Untuk adikku Sulastri, di tempat. Apa kabarmu dik setelah puluhan tahun kita tak berjumpa?".

Menurutku surat itu malah lebih tampak seperti surat seorang kakak kepada adiknya yang lama tidak bertemu ketika kubaca. Namun jika aku mengingat lagi cerita dalam buku harian nenek maka sebenarnya ini adalah sebuah surat cinta dari sepasang kekasih yang telah terpisah puluhan tahun.

Dalam surat itu sama sekali tidak disinggung mengenai kehidupan seperti apa yang sedang dialami oleh Prastowo dan apakah dirinya telah menikah. Hal ini tentu saja sedikit membuat resah terutama setelah muncul niat untuk menemui pria tersebut dan menceritakan bahwa nenek sudah meninggal.

Namun terdapat beberapa kalimat yang dapat menjelaskan bahwa kami masih tinggal di kota yang sama. Hal itu kuketahui ketika membaca tulisan "seperti dulu aku masih terus memandang senja di jembatan yang sama dik. Sembari melihat anak-anak kampung berebut bola di bantaran sungai itu. Hal ini mengingatkanku pada hari-hari yang biasa kita lalui ketika dulu berangkat sekolah bersama dik".

Sejak lahir hingga meninggal, nenek tidak pernah pindah dan meninggalkan kota ini. Seluruh kehidupannya ada dan mengalir seiring perkembangan kota ini. Jadi jika memang Prastowo mengatakan bahwa dia masih di jembatan yang sama, mungkin dia memang masih tinggal di kota ini atau bahkan mungkin berada tidak jauh dari rumah ini.

Cara untuk menemuinya kuharap dapat kutemukan dari teman-teman nenekku yang telah kukenal. Memang hanya sedikit, tetapi aku harap dapat membantuku untuk menemukan sosok siapa sesungguhnya Prastowo. Semoga usaha ini akan membuahkan hasil karena aku juga ingin mengenal sosok nenek yang diketahui oleh mas Pras ini.

[Bersambung]

(mdk/RWP)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP