Melongok markas bawah tanah Bandung Heritage Society
Merdeka.com - Bandung Heritage menempati ruang bawah tanah Rumah Seni Ropih Jalan Braga No. 43. Bandung. Di ruang itu komunitas yang khusus melindungi bangunan-bangunan cagar budaya (heritage) ini mendirikan perpustakaan dan ruang kerja.
Sejumlah buku tua berderet di rak dari kayu, dan sebuah meja besar menempati satu sisi ruang lain yang biasa dipakai rapat atau diskusi.
Bandung Heritage boleh dibilang garda terdepan dalam melindungi benda peninggalan sejarah, khususnya bangunan cagar budaya. Komunitas ini didirikan 1987 oleh HEK Ruhiyat, Harastoeti Dibyo Hartono, Dibyo Hartono, Francis B Affandi, dan lainnya.
Pendirian Bandung Heritage diilhami sebuah konferensi sejarah di Yogyakarta, Jawa Tengah. Dari situ mereka sadar bahwa Bandung memiliki banyak bangunan bersejarah yang memiliki nilai-nilai penting untuk diwariskan ke generasi mendatang.
Namun di saat yang sama, banyak bangunan bersejarah di Bandung mengalami penghancuran. Penghancuran ini tidak lepas dari citra negatif bangunan kolonial, sebagai gedung yang dibangun penjajah Belanda dan dianggap menyimpan catatan kelam.
“Padahal tanpa benda sejarah, kami mau mempelajari dan menceritakan sejarah apa?” kata Koordinator Jaringan relawan dan hukum Bandung Heritage Society, Tubagus Adi, saat berbincang dengan Merdeka Bandung, Selasa (3/11).
Dengan kondisi tersebut, tutur dia, HEK Ruhiyat mengusulkan ide pembentukan paguyuban pelestarian budaya Bandung. Gayung bersambut, para tokoh berlatar pendidikan arsitektur, antropologi, desain grafis dan disiplin ilmu lainnya sepakat membentuk Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung atau Bandung Heritage Society.
“Jadi Bandung Heritage didirikan bukan hanya oleh arsitektur saja, tetapi oleh orang-orang multidisiplin ilmu,” ungkap Adi.
Kini anggota Bandung Heritage mencapai 800 orang, sedangkan yang aktif hanya sekitar 50 anggota. Banyak anggota yang datang dan pergi. Sebagai komunitas yang mempelajari dan mencintai sejarah, Bandung Heritage banyak merekrut mahasiswa.
“Begitu mereka lulus, banyak yang kembali ke kampung halaman mereka,” katanya.
Ada beberapa anggota yang kemudian membentuk komunitas heritage di kampung halamannya, misalnya Garut Heritage, Gersik Heritage, Budaya Warisan Sumatera, Badan Perpustakaan Indonesia, dan lainnya.
Salah satu cerita sukses Bandung Heritage adalah turut mendorong lahirnya Perda Nomor 19/2009 tentang Pengelolaan Bangunan dan Kawasan Cagar Budaya Kota Bandung dan Perwal Nomor 921/2010 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya Kota Bandung. Dalam peraturan tersebut ada ratusan bangunan bersejarah yang harus dilindungi dan dilestarikan.
(mdk/has)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya