Melawan prostitusi dengan literasi
Merdeka.com - Gang itu tak ubahnya gang-gang biasa di kampung padat penduduk lain. Barisan rumah dengan jalan gang yang sempit, Suara riuh rendah dari dalam rumah yang terdengar hingga ke luar, serta anak-anak kecil yang berlarian di sepanjang gang tersebut. Tetapi siapa sangka dulu gang itu adalah salah satu pusat prostitusi di wilayah Surabaya.
Kampung tersebut terletak di jalan Putat Jaya Gang IIa di wilayah ex lokalisasi Dolly. Setahun setelah penutupan, terdapat banyak perubahan di wilayah ini sekarang telah terdapat berbagai macam usaha seperti sablon kaos, pembuatan batik, serta pembuatan telur asin di gang ini. Tetapi ada satu hal paling menonjol dari kampung ini adalah Taman Baca Kawan Kami yang selalu ramai oleh anak-anak dan remaja.
Berbeda dari usaha yang baru saja buka, taman baca ini tidak bertujuan untuk mencari keuntungan dan telah dibuka jauh sebelum Dolly ditutup, yaitu sejak 2007. Perpustakaan ini dari awal memang sengaja dibangun untuk membentengi anak-anak dan remaja dari pengaruh negatif yang muncul dari area lokalisasi. Sosok yang paling bertanggungjawab terhadap pendirian perpustakaan ini adalah Pak Kartono.
"Tujuannya mutus rantai kegiatan anak-anak dan orang tua. Biar nggak nular" Tutur Kartono pada tim merdeka.com mengenai alasan mendirikan perpustakaan ini. Wilayah perpustakaan ini berada di wilayah Jarak. Berbeda dengan gang Dolly yang sepenuhnya berisi wisma-wisma dan memiliki jarak dengan rumah tangga, di Jarak wisma-wisma prostitusi tersebut tumbuh dan ada di tengah-tengah rumah warga. Kondisi seperti inilah yang membuat anak-anak di Jarak lebih rentan terkena pengaruh psikis dari bisnis prostitusi.
Cara dari Kartono untuk melindungi anak-anak di sekitar wilayah tersebut adalah dengan cara memberikan pendidikan dan pengetahuan yang cukup bagi mereka. Keputusan untuk menggunakan perpustakaan ini sedikit banyak juga dipengaruhi oleh pengalaman pribadi dari Kartono sendiri. Sebelumnya dia adalah salah seorang pemilik wisma di wilayah sekitar situ, namun karena 'pencerahan' yang tiba-tiba didapatnya setelah membaca serta kondisi PSK asuhannya yang mengenaskan, dia memutuskan untuk menutup wisma miliknya dan mulai membuka perpustakaan.
Pada awalnya pendirian ini tidak terlalu mulus. Sempat terjadi penolakan dari pengurus kampung karena ditakutkan dapat mengganggu dan menghabisi bisnis disekitarnya secara diam-diam. Namun seiring berlalunya waktu, semakin banyak donatur yang terlibat serta dukungan dari pemerintah kota Surabaya membuat perpustakaan ini dapat terus berdiri serta memiliki lebih dari 4.000 koleksi buku.
Selain membaca, anak-anak di taman Baca Kawan Kita juga diajak untuk deklamasi puisi, bermain teater, dan belajar membuat kue kering. Segala hal tersebut diajarkan oleh Kartono dan istrinya yang memperoleh segala ilmu tersebut dari buku yang mereka baca. Hasil dari hal-hal tersebut adalah beragam piala dan penghargaan yang dipajang di sini.

Rumah baca ini juga bagaikan rumah kedua yang melindungi dan membentengi anak-anak dari pengaruh buruk lokalisasi. Ketika tahun lalu sedang terjadi ribut-ribut mengenai penutupan lokalisasi. Kartono coba mengalihkan perhatian anak-anak dengan berbagai aktivitas di taman baca. Hal itu karena para anak-anak yang sering datang ke tempat ini memiliki berbagai latar belakang mulai dari anak PSK, mucikari, hingga warga biasa. Jika perhatian mereka tidak dialihkan maka ditakutkan bahwa mereka ikut-ikutan ribut seperti orang tua mereka.
Bagi Kartono, jalan bagi perubahan menuju hidup yang lebih baik adalah melalui membaca. Selain berkaca dari pengalamannya sendiri, istrinya pun yang hanya lulusan kelas 2 SD juga memiliki berbagai macam pengetahuan dan keterampilan berkat membaca. Cara ini lah yang coba diterapkan Kartono pada anak-anak di sekitar ex lokalisasi Dolly dan Jarak, hingga saat ini cara tersebut sudah cukup berhasil membuat mereka terseret arus dan bekerja di bidang prostitusi dan bahkan hingga kini akhirnya ditutup.
(mdk/RWP)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya