Mau Coba Tanam Benang di Hidung? Ini Potensi Risiko yang Harus Diketahui
Merdeka.com - Hidung mancung, ramping, dan proporsional tentu menjadi impian banyak perempuan. Tidak semua orang cukup beruntung memilikinya. Untungnya, perkembangan teknologi bedah kosmetik memungkinkan para perempuan untuk mengubah bentuk hidung sesuai keinginan. Salah satu prosedur yang juga populer saat ini adalah tanam benang.
Tanam benang banyak disarankan untuk mereka yang enggan menjalani rhinoplasty, karena prosedur ini tidak menyakitkan. Namun, adakah potensi risiko yang perlu diketahui dari prosedur ini? Berikut penjelasan selengkapnya.
Mengenal Prosedur Tanam Benang
Dikutip dari Facial Sculpthing, tanam benang adalah prosedur temporer yang populer di Asia. Prosedur ini tidak memerlukan pembedahan atau pemotongan kulit.
Prosedur dijalankan dengan menggunakan benang berbahan gula kompleks yang disebut sebagai PDO (polydioxanone). Kandungan ini telah teruji secara biomedikal dan farmasi selama bertahun-tahun, jadi cukup terjamin keamanannya.
Potensi Risiko Tanam Benang

© pexels.com/Shiny Diamond
Walaupun relatif aman, tanam benang masih mengandung potensi risiko. Dilansir Healthline, sebanyak 15 sampai 20 persen prosedur tanam benang mengalami komplikasi minor. Potensi risiko yang akan muncul di antaranya:
Risiko-risiko ini dapat muncul setelah prosedur berlangsung. Kesalahan seperti penempatan benang yang tidak tepat, alat tidak steril, serta kurangnya pengalaman dokter dapat menyebabkan munculnya potensi risiko yang tidak diinginkan.
Pastikan untuk memilih tempat dan ahli yang tepat untuk mendapatkan prosedur dengan hasil yang baik. Sehingga potensi berbekas, bengkak dan berdarah pada wajah akan berkurang.
Tips Menghindari Risiko sebelum dan setelah Prosedur Tanam Benang
Melalui artikel di Facial Sculpthing, Dr. Nina memberi instruksi penting bagi orang yang ingin melakukan prosedur tanam benang. Langkah-langkah ini akan menghindari potensi risiko yang dapat muncul akibat tanam benang.
Hasil tanam benang akan terlihat secara instan dan akan meningkat seiring waktu saat tubuh kita memproduksi kolagen yang cukup. Efeknya akan berangsur meningkat selama 3 sampai 6 bulan, atau bahkan 1 tahun, tergantung produksi kolagen dalam tubuh. Sementara efek tanam benang dapat bertahan selama 1 sampai 2 tahun.
Demikian potensi risiko tanam benang dan cara menghindarinya. Silakan dipertimbangkan jika Anda ingin mencoba prosedur ini. Reporter: Meisie CorySumber: Fimela.com
(mdk/tsr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya