Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ini potret memilukan anak-anak pengungsi dari Timur Tengah

Ini potret memilukan anak-anak pengungsi dari Timur Tengah Potret anak-anak pengungsi Timur Tengah karya Magnus Wennman. ©Magnus Wennman

Merdeka.com - Inilah potret kesengsaraan yang harus dijalani oleh para pengungsi di Timur Tengah. Magnus Wennman, seorang wartawan foto dari Stockholm telah menerbitkan serangkaian foto yang mengungkapkan pilunya hidup para pengungsi.

Melalui bidikan lensanya, Wennman mencoba menangkap situasi memprihatinkan yang harus dihadapi anak-anak pengungsi setiap malam. Wennman memotret anak-anak itu saat sedang tidur. Mirisnya mereka harus tidur di tempat-tempat yang tak layak.

Anak-anak ini mengalami trauma, depresi, dan luka fisik yang terus menghantui mereka di malam hari. Hal itu masih diperburuk dengan kenyataan kalau mereka tak lagi punya rumah untuk berteduh dari terik matahari dan berlindung dari udara dingin di malam hari.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN, Wennman mengatakan kalau memahami konflik dan krisis yang mengundang dua sisi kontroversi seperti ini mungkin memang tidak mudah. Tetapi tentunya tidak sulit untuk memahami fakta kalau anak-anak membutuhkan tempat yang aman untuk tidur. Bagi Wennman sangat memprihatinkan anak-anak ini tidak bisa mendapatkan kenyamanan sederhana seperti itu.

"Mereka telah kehilangan harapan," tambah Wennman seperti dikutip Bored Panda (19/11).

Berikut ini beberapa foto anak pengungsi yang berhasil diabadikan oleh fotografer pemenang penghargaan tersebut.

potret anak anak pengungsi timur tengah karya magnus wennman

Photo credit: Instagram/Magnuswennman

Lamar, 5 tahun, adalah pengungsi dari Baghdad, Irak. Gadis kecil yang kini mengungsi di Horgos, Serbia ini merindukan mainan-mainan kesayangannya yang tertinggal di kampung halaman.

Lamar dan keluarga sedang dalam perjalanan untuk membeli makanan ketika sebuah bom dijatuhkan dekat rumah mereka.

"Tidak mungkin untuk tinggal di sana lagi," kata nenek Lamar, Sara. Setelah dua upaya untuk menyeberangi laut dengan perahu karet, mereka berhasil sampai di Serbia. karena tak ada kamp yang bisa menampung mereka, Lamar harus tidur beralaskan selimut di hutan.

potret anak anak pengungsi timur tengah karya magnus wennman

Photo credit: Instagram/Magnuswennman

Cerita yang lebih memilukan lagi datang dari Abdullah, 5 tahun, yang juga mengungsi di Serbia. Abdullah harus tidur stasiun Belgrade. Bocah kecil ini trauma karena menyaksikan sendiri kematian saudara perempuannya di kampung halaman mereka, Daraa.

"Dia masih terguncang dan mengalami mimpi buruk setiap malam," kata ibunya. Yang lebih menyedihkan lagi, Abdullah menderita penyakit darah. Namun keluarganya tak lagi punya uang untuk membeli obat.

potret anak anak pengungsi timur tengah karya magnus wennman

Photo credit: Instagram/Magnuswennman

Maram, 8 tahun baru pulang dari sekolah ketika sebuah roket menerjang rumahnya. Sempalan atap menimpa Maram dan membuatnya harus dibawa ke rumah sakit. Setelah koma selama 11 hari, bocah yang kini mengungsi di Amman, Yordania ini mengalami patah rahang dan tidak bisa bicara.

potret anak anak pengungsi timur tengah karya magnus wennman

Photo credit: Instagram/Magnuswennman

Ralia, 7 tahun dan Rahaf, 13 tahun, kehilangan ibu dan saudara lelaki mereka karena ledakan granat. Selama setahun terakhir dua bocah ini dan ayahnya harus tidur beratapkan langit di Beirut, Lebanon. Keduanya kerap menangis ketika mengingat 'pria-pria jahat' yang membunuh keluarga mereka.

potret anak anak pengungsi timur tengah karya magnus wennman

Photo credit: Instagram/Magnuswennman

Walaa, 5 tahun, yang tinggal di kamp pengungsi Dar-El-Ias selalu menangis setiap malam. Malam hari adalah saat yang menakutkan bagi Walaa, sebab saat itulah rumahnya yang ada di Aleppo, Suriah diserang.

potret anak anak pengungsi timur tengah karya magnus wennman

Photo credit: Instagram/Magnuswennman

Shehd, 7 tahun sangat suka menggambar. Dulu dia suka menggambar berbagai hal, namun sejak konflik melanda negaranya, yang dia goreskan di atas kertas hanya gambar-gambar senjata. "Dia melihatnya (senjata) setiap saat, di mana-mana," kata ibunya.

Sekarang Shehd bahkan tidak bisa menggambar lagi. Jangankan membeli kertas dan krayon, keluarganya bahkan kesulitan untuk mencari makan.

potret anak anak pengungsi timur tengah karya magnus wennman

Photo credit: Instagram/Magnuswennman

Shahana, 32, yakin putranya Amir mengalami trauma sejak dalam kandungan. Sejak lahir sampai usianya 20 bulan, Amir tidak pernah bersuara. Bocah yang sudah jadi pengungsi sejak lahir ini sangat suka tertawa dan bermain, namun tak ada mainan anak-anak yang tersedia untuknya. Jadi dia bermain dengan segala benda yang bisa ditemukannya.

(mdk/tsr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP