Demi kuliah anak, pasutri daur ulang 7.000 botol plastik sehari
Merdeka.com - Nelson Mandela mengatakan bahwa, "Education is the most powerful weapon which you can use to change the world." Yang dalam bahasa Indonesia berarti "Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat kamu gunakan untuk mengubah dunia."
Karena mengetahui pendidikan berperan penting pada masa depan anak, banyak orang tua bekerja keras dan menginvestasikan sebagian besar tabungan mereka untuk pendidikan anak. Salah satu di antaranya adalah Jiagu Zhu dan Jianying Liu.
Pasangan dari Hengyang, China, ini mengumpulkan dan mendaur ulang plastik untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dalam sehari, Jiagu Zhu dan istrinya, Jianying Liu, bisa mengolah lebih dari 180 kg plastik. Hal itu mereka lakukan untuk bisa melihat anak-anak mereka lulus perguruan tinggi. Menurut laporan situs berita China, Hua Xin Zai Xian, Jiagu dan istrinya rata-rata mendaur ulang lebih dari 7.000 botol setiap hari. Namun pada hari-hari sibuk, mereka bisa mengolah hingga lebih dari 10.000 botol per hari.
Dalam setahun, Jiagu dan Jianying bisa mendaur ulang hingga 20 ton botol plastik - ada sekitar 900.000 botol yang rusak. Selain botol plastik, mereka juga mengumpulkan barang-barang plastik daur ulang lainnya. Mengumpulkan plastik mungkin tampaknya hanyalah pekerjaan biasa, tetapi setiap proses membutuhkan usaha dan waktu yang luar biasa, karena bisnis ini sepenuhnya mereka jalankan sendiri.
Usaha ini dimulai 10 tahun yang lalu, ketika Jiagu menyewa sebuah unit pabrik. Bersama dengan istrinya, dia kemudian mendirikan pabrik daur ulang plastik tersebut.
Pagi buta, Jiagu sudah mengendarai sepeda roda tiganya, melewati lorong-lorong dan jalan-jalan untuk mengumpulkan sampah plastik yang berserakan. Sementara istrinya tetap bekerja di pabrik, mencuci dan memisahkan plastik untuk pengolahan lebih lanjut.
Ketika sedang diwawancarai, Jianying bahkan sering terlihat mengusap peluh yang mengalir di wajahnya. Dia berulangkali mengatakan bahwa pekerjaannya sulit dan melelahkan. Namun demi bisa melihat anak-anak mereka lulus perguruan tinggi, pasutri ini rela melakukan pekerjaan kasar tersebut.
Photo by ETToday
"Karena setelah masa pahit, akan ada saat manis. Setelah Anda bekerja kerja keras, Anda akan menuai hasil yang baik. Kami tidak takut menjalani kehidupan yang keras, kami tidak takut pada pekerjaan yang melelahkan, kami dapat mengukir hidup bahagia dengan tangan kosong kami," kata Jiagu, begitu menginspirasi.
Bagi mereka, masa sulit itu telah berlalu. Mengapa? Karena kedua anak mereka telah lulus dari perguruan tinggi. Dengan semangat kerja keras itu, mereka berhasil memberikan masa depan yang cerah bagi kedua anak mereka. Mereka bahkan sudah berhasil mengirim salah satu putra mereka ke Jerman untuk mengejar gelar PhD.
Jiagu Zhu dan istrinya, Jianying Liu, tampak tersenyum ketika diwawancarai oleh situs berita lokal China, Hua Xin Zai Xian. (Photo by ETToday)
Kita sering merasa putus asa dengan hidup kita. Kita selalu mempertanyakan kemajuan apa yang kita raih dalam hidup. Namun, Jiagu dan istrinya telah membuktikan kepada kita, selama kita memiliki tujuan dalam hidup dan kita mau bekerja keras untuk mencapainya, semua pasti akan indah pada waktunya.
Seorang Buya Hamka pernah mengatakan, "Jika hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika bekerja hanya sekedar bekerja, kera juga bekerja". Kisah Jiagu Zhu dan istrinya, Jianying Liu, pun menjadi gambaran nyata tentang makna perjuangan dan sikap pantang menyerah dalam menapaki kehidupan. (mdk/des)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya