Buku antik Bandung masih bertahan di era digital
Merdeka.com - Maraknya penggunaan internet membuat pangsa pasar buku bekas di Bandung mengalami penurunan. Kendati demikian, para pedagang buku bekas tetap bertahan. Terlebih masih ada pecinta buku yang memburu buku-buku antik.
“Kalau pangsa pasar buku bekas sih ada saja, meski ada penurunan,” kata Bobby, 50 tahun, pemilik kios buku Tjihapit, Bandung, Jumat (6/11).
Ia menyebutkan, penurunan pangsa pasar terjadi sejak 2010 ketika mulai maraknya penggunaan internet. Banyak informasi yang bisa didapat dengan mudah lewat mesin pencari Google. Selain itu, internet juga menyediakan buku elektronik (e-book).
Ia memprediksi, di era internet saat ini minat baca anak muda terhadap buku jauh menurun dibandingkan generasi sebelumnya. “Mungkin mereka lebih senang game online, browsing. Mau baca buku sudah ada e-book, jadi orang kalau butuh satu dua artikel tinggal cari online saja. Sedangkan orangtua dulu kan sarana internetnya belum ada, jadi orang lebih banyak cari buku,” ungkap Bobby.
Sebelum marak internet, pelanggan Kios Buku Tjihapit banyak datang dari Jakarta, Bogor selain dalam kota Bandung. Sesekali ada turis asing yang mampir ke kios yang terletak tidak jauh dari perempatan Jalan Cihapit dan Jalan Riau.
Kini jumlah pelanggan luar kota berkurang. Kios Bobby lebih mengandalkan pelanggan dari dalam kota. Namun khusus pangsa pasar buku antik, terutama buku-buku sejarah, masih tetap bertahan. Menurutnya, ukuran pangsa pasar buku antik terkait dengan selera, ada unsur seninya.
“Buku antik tergantung selera atau peminat, kalau kondisi bukunya masih bagus, harganya bisa sangat tinggi,” katanya.
Ia mencontohkan, sebuah buku ensiklopedia yang terdiri dari beberapa seri harganya bisa Rp 100 ribu perserinya. Tapi jika ensiklopedia tersebut hanya ada satu seri saja, harganya bisa jatuh lebih murah menjadi setengahnya.
Buku lain yang sekarang lagi banyak dicari adalah sejarah tentang Bandung karya “Kuncen Bandung” Haryoto Kunto yang harganya antara Rp 150 ribu sampai Rp 1 juta. “Itu juga harus pesan dulu, waktunya tidak pasti bisa berbulan-bulan,” katanya.
Pelanggan tetap Bobby kebanyakan mahasiswa, kolektor buku, atau sesama pedagang buku. Bobby menjelaskan, para pedagang buku bekas biasa berjaringan, satu kios buku biasa membeli buku dari kios lain.
Untuk mengatasi pengaruh internet, Kios Buku Tjihapit membuka lapak online, yaitu bukubandung.com yang isinya koleksu buku yang menjadi andalan kios yang sudah buka sejak tahun 80-an. Kios ini memiliki koleksi sekitar 10.000 koleksi judul buku.
(mdk/has)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya