Apa yang terjadi dalam otak saat jatuh cinta?

    Reporter : Rizqi Adnamazida | Kamis, 15 November 2012 20:45




    Apa yang terjadi dalam otak saat jatuh cinta?
    Ilustrasi cinta. ©2012 Shutterstock/Marie C Fields

    Merdeka.com - Anda mungkin heran dengan kelakuan seseorang yang rela meninggalkan karir atau hartanya hanya demi cinta. Namun para ahli mulai mengungkap misteri kenapa orang yang jatuh cinta bisa bertingkah gamang, tidak rasional, sampai konyol.

    Seperti yang dilansir dari Daily Mail, teknologi membantu para ahli mempelajari saraf pada otak ketika seseorang jatuh cinta. Mereka kemudian memetakan perubahan kimia yang terjadi dan mengamati bagian otak yang aktif atau mati selama berhari-hari ketika seseorang dimabuk asmara.

    Lebih dari itu, peneliti juga menemukan kenapa semua itu membuat seseorang yang jatuh cinta menjadi selalu gelisah. Untuk lebih jelasnya, simak ulasan tentang bagian dalam otak yang terjadi ketika Anda jatuh cinta.

    Korteks frontal
    Bagian ini bertugas membuat keputusan dan menghakimi sesuatu atau seseorang. Tetapi ketika jatuh cinta, korteks frontal dimatikan oleh otak. Menurut Semir Zeki dari University College London, ada banyak bagian otak yang aktif saat Anda dimabuk asmara. Tetapi area besar pada otak ini malah mati, padahal sifatnya penting dalam menilai hal tertentu.

    Zeki percaya matinya korteks frontal terjadi karena tujuan biologis, misalnya memperlancar urusan reproduksi. Itulah sebab kenapa orang yang jatuh cinta sulit melihat kesalahan si dia.

    Otak juga menunjukkan area otak yang mengontrol takut dan emosi negatif lain ikut mati. Makanya jatuh cinta akan membuat Anda selalu terlihat senang.

    Pengaruh hormon
    Jatuh cinta juga membuat hormon dopamin meningkat tajam. Dopamin sendiri merupakan kunci seseorang yang menikmati rasa sakit sekaligus kepuasaan dalam waktu bersamaan. Hormon ini dikaitkan dengan gairah, kecanduan, euforia, dan sifat-sifat pantang menyerah saat mengejar cinta.

    Sebuah tes juga menunjukkan kokain punya efek yang sama seperti dopamin. Sementara dopamin yang meningkat ikut mempengaruhi produksi serotonin, hormon yang memperbaiki suasana hati dan nafsu makan.

    Kadar serotonin yang tinggi juga sering ditemukan pada orang yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif. Itulah sebabnya kenapa cinta membuat Anda cemas dan gugup. Sementara perasaan berdebar-debar, berkeringat dingin, dan mulut kering disebabkan oleh hormon adrenalin.

    Hormon lain yang keluar saat jatuh cinta sama dengan ketika Anda ketakutan. Artinya, cinta bisa membuat Anda merasa senang sekaligus takut. Terutama jika Anda menjalani cinta terlarang.

    Obsesi cinta
    Psikolog kini tengah berusaha memahami kenapa terobsesi pada cinta bisa berbahaya. Sebab beberapa orang sampai harus menjadi penguntit hanya demi memperhatikan orang yang dicintainya.

    "Perasaan cinta seperti bola salju bagi penguntit. Kebiasaan mengikuti orang yang dicintai berubah menjadi kelainan mental dan membuatnya berkhayal. Sayangnya kami masih belum tahu banyak apa yang menyebabkan hal ini," terang Dr David Nias, seorang psikolog.

    Namun Dr Nias juga menyatakan kalau ada cara untuk menyembuhkan kelainan tersebut. Sebab semua yang berlebihan memang tidak baik, termasuk jatuh cinta. Setuju?

    [riz]
    Kunjungi portal hao123 untuk akses internet aman dan nyaman


    Komentar Anda


    Be Smart, Read More
    Back to the top


    Today #mTAG
    LATEST UPDATE
  • Hujan dan atap DPR bocor, foto Bung Karno rusak kena tetesan air
  • LBH Anak : Masih ada 37 anak korban tsunami belum jelas
  • Selamat! Berikut para pemenang 2014 SBS Gayo Daejeon
  • Tak mau kalah dengan Ahok, Djarot mulai galak benahi Jakarta
  • Ketahui 3 fakta penting tentang gigi bungsu
  • Cinta Laura ternyata juga dekat dengan Al Ghazali
  • Panglima TNI gelar rapim bahas kekuatan TNI dan maritim
  • Dibayar Rp 3 juta, tugas pria Thailand ini masuk mulut buaya
  • Bunda Iffet, Sosok Ibu dan Sahabat di Balik Kesuksesan Slank
  • Jelang akhir tahun harga emas turun Rp 2.000 per gram
  • SHOW MORE