Yerusalem memanas, bisa pecah intifada ketiga
Merdeka.com - Serangan ekstremis Yahudi ke kawasan Masji Al Aqsa di Yerusalem memancing aksi balasan dari militan muslim. Pada Senin (17/11), terjadi insiden penikaman di salah satu sinagog di kawasan Yerusalem Timur. Imbasnya, empat jemaat Yahudi tewas, tiga adalah warga negara Amerika Serikat dan satu rabi asal Inggris.
Konflik Israel-Palestina kembali memasuki tensi tinggi. Setelah pertengahan tahun ini Jalur Gaza dibombardir oleh armada Zionis, maka beberapa pihak semakin khawatir lantaran area konflik meluas.
Aktivis Boikot Israel Umar Barghouti meyakini mayoritas rakyat Palestina, baik yang ada di faksi Fatah maupun Hamas, akan bersatu dalam waktu dekat. "Saya yakin kejadian kekerasan beberapa pekan ini adalah wujud dari intifada," ujarnya seperti dilansir Russia Today, Selasa (18/11).
Intifada secara harfiah bermakna "mengguncang" bisa diartikan pula "kebangkitan". Gerakan ini melibatkan seluruh rakyat Palestina, tua-muda, menghapuskan sekat politik yang selama ini melemahkan mereka.
Intifada Palestina pertama terjadi sepanjang 1987-1993. Gerakan rakyat semesta kedua terjadi pada 2000 hingga 2005. Saban intifada berlangsung, ribuan korban jiwa bertumbangan, baik dari sisi Palestina maupun Israel.
Kawasan Tepi Barat yang dikuasai Fatah dan relatif lebih aman dari konflik, kini turut terseret pusaran kekerasan.
Pada Pekan lalu, gerombolan pemuda Israel dengan sengaja membakar masjid di Ramallah. Warga Palestina makin emosi, karena seorang sopir bernama Yusuf al-Ramoni digantung orang tak dikenal di Yerusalem.
Umar mengingatkan, seiring perkembangan zaman, intifada tidak bisa lagi diartikan perjuangan bersenjata yang terkoordinasi. "Tidak akan ada tanggal mulai yang jelas," ujarnya yakin.
Hamas mendukung serangan ke Sinagoga dan aksi-aksi vandalisme lain yang dilakukan pemuda Yerusalem atas pembunuhan sang sopir bus.
"Kami berharap semua aksi ini bisa mengajak rakyat Palestina menggelar intifada," kata Juru Bicara Hamas Muhammad Tamimi.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di hadapan parlemen atau Knesset menolak disalahkan. Dia balik menyerang otoritas Palestina sengaja memprovokasi rakyat, dengan isu-isu kekerasan oleh militer Israel.
"Ini adalah bukti langsung dari provokasi yang dilakukan oleh Hamas dan Mahmud Abbas, provokasi yang tidak dihiraukan oleh komunitas internasional," kata Netanyahu.
Negeri Zionis itu mulai mendapatkan tekanan internasional, agar segera mengakui Palestina sebagai negara merdeka. Situasi tersebut membuat sebagian faksi Palestina merasa mendapat angin untuk menggelar intifada.
Swedia menjadi negara Eropa pertama mengakui Palestina berdaulat. Parlemen Inggris juga sudah memberikan pengakuan serupa.
Survei digelar oleh Universitas An-Najah di Nablus, Palestina, tahun lalu menyebutkan separuh warga Palestina mendukung gerakan intifada bersenjata melawan Israel.
Ada 56 persen warga mendukung perlawanan tanpa senjata terhadap Israel. Sebanyak 57 persen responden menginginkan intifada ketiga pecah di Tepi Barat dan 32 persen lainnya berharap sebaliknya. (mdk/ard)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya