WHO: Satu dari Tiga Perempuan Alami Kekerasan Fisik dan Seksual Selama Hidupnya
Merdeka.com - Hampir satu dari tiga perempuan di seluruh dunia menjadi korban kekerasan fisik atau seksual selama hidupnya, tindakan kriminal yang meningkat selama pandemi virus corona. Demikian disampaikan WHO pada Selasa.
Badan PBB itu mendesak pemerintah mencegah kekerasan, meningkatkan layanan bagi korban dan menangani kesenjangan ekonomi yang sering menyebabkan perempuan dan anak perempuan terjebak dalam hubungan yang menyiksa.
Pejabat WHO menegaskan, anak laki-laki harus diajarkan di sekolah mengenai pentingnya saling menghormati dalam sebuah hubungan dan persetujuan bersama dalam hubungan seksual.
“Kekerasan terhadap perempuan adalah endemik di setiap negara dan budaya, menyebabkan luka bagi jutaan perempuan dan keluarga mereka, dan diperburuk pandemi Covid-19,” jelas Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari Al Arabiya, Rabu (10/3).
Sekitar 31 persen perempuan berusia 15-49 tahun, atau 852 juta perempuan, pernah mengalami kekerasan fisik atau kekerasan seksual, seperti disampaikan WHO dalam apa yang disebut penelitian terbesar yang pernah dilakukan, mencakup data nasional dan survei dari 2000-2018.
WHO juga mengatakan, suami atau pasangan intim merupakan pelaku paling umum dan jumlah korban yang tidak proporsional berada di negara-negara termiskin. Angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi karena kurangnya pelaporan tentang pelecehan seksual, kejahatan yang sangat distigmatisasi.
“Angka ini sangat mengejutkan dan benar-benar merupakan semacam alarm bagi pemerintah untuk melakukan jauh lebih banyak dalam mencegah kekerasan ini,” jelas penulis laporan, Claudia Garcia-Moreno.
Claudia mengatakan, di beberapa kawasan, lebih dari setengah perempuan menghadapi kekerasan pada satu titik, mengutip Oseania, sub-Sahara Afrika, dan Asia selatan.
Negara-negara dengan prevalensi tertinggi termasuk Kiribati, Fiji, Papua Nugini, Bangladesh, Republik Demokratik Kongo, dan Afghanistan, seperti ditunjukkan data WHO. Angka terendah berada di Eropa, sampai 23 persen, seumur hidup.
WHO mengatakan, kekerasan dimulai pada usia yang "sangat muda”.
Claudia mengatakan, satu dari empat gadis remaja berusia 15-19 tahun yang telah menjalin hubungan telah mengalami kekerasan fisik atau seksual.
“Ini adalah waktu yang sangat penting dan formatif dalam hidup. Dan kita tahu bahwa dampak dari kekerasan ini dapat bertahan lama dan dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental serta menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan dan komplikasi lainnya,” jelasnya.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya