Warga Myanmar Terancam Mati Massal karena Kelaparan dan Penyakit
Merdeka.com - Pelapor khusus PBB bidang HAM di Myanmar memperingatkan “kematian massal” warga karena kelaparan dan penyakit di tengah pertempuran antara kelompok pemberontak dan pasukan junta di wilayah timur negara yang dilanda kudeta tersebut.
Myanmar telah berada dalam kekacauan dan kelumpuhan ekonomi sejak kudeta 1 Februari dan tindakan brutal militer terhadap para pengunjuk rasa anti kudeta yang telah menewaskan lebih dari 800 orang, menurut kelompok pemantau.
Pertempuran pecah di beberapa komunitas, khususnya di kota-kota kecil di mana jumlah korban tewas karena kebrutalan polisi cukup tinggi dan beberapa penduduk telah membentuk “pasukan pertahanan”.
Bentrokan meningkat di negara bagian Kayah dekat perbatasan Thailand dalam beberapa pekan terakhir.
Penduduk menuduh militer menembakkan peluru artileri yang mendarat di dekat desa-desa dan PBB memperkirakan sekitar 100.000 orang mengungsi.
“Kematian massal karena kelaparan, penyakit, dan paparan bisa terjadi di negara bagian Kayah setelah sebanyak 100.000 orang terpaksa melarikan diri ke hutan untuk menghindari bom junta yang sekarang diputus dari akses makanan, air, dan obat-obatan oleh junta. Komunitas internasional harus bertindak,” jelas pelapor khusus PBB untuk Myanmar, Tom Andrews dalam pernyataannya yang diunggah di Twitter.
“Serangan brutal, tanpa pandang bulu junta mengancam nyawa ribuan pria, perempuan, dan anak-anak di negara bagian Kayah,” lanjutnya, dikutip dari France 24, Kamis (10/6).
Foto-foto AFP dari negara bagian Kayah menunjukkan penduduk desa membuat senjata ketika kelompok pertahanan penduduk turun melawan militer Myanmar.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya