Warga Kanada Ditangkap Atas Kasus Pedofilia di Nepal
Merdeka.com - Seorang staf lembaga bantuan asal Kanada dihukum penjara sembilan tahun dan tujuh tahun di Nepal, yang akan dijalankan secara bersamaan, setelah dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap dua anak laki-laki.
Pengadilan negeri pada Senin juga memerintahkan Peter Dalglish membayar denda USD 9.112 lebih dari setahun setelah ia ditangkap dan sebulan setelah dinyatakan bersalah karena melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak.
"Putusan tersebut membawa pesan penting kepada predator kemanusiaan di manapun, jika Anda memangsa anak-anak rentan di Nepal, Biro Investigasi Pusat akan menyelidiki dan pengadilan akan menuntut," kata pakar kemanusiaan, Lori Handrahan, dilansir dari Aljazeera, Selasa (9/7).
"Putusan pidana ini membuka jalan bagi korban-korban Dalglish lainnya untuk menuntut kerugian sipil sehingga mereka bisa menikmati keadilan restoratif dan sembuh dari perlakukan jahat terhadap mereka," lanjutnya kepada Aljazeera.
Vonis dijatuhkan di tengah kekhawatiran warga bahwa Nepal telah menjadi target pedofil asing yang beraksi di bawah kedok filantropi. Kepolisian Nepal menyampaikan, hukuman yang dikenakan pada Dalglish, yang merupakan subjek penyelidikan Aljazeera dalam 101 East Programme adalah keputusan penting.
"Ini membantu menyebarkan pesan kepada dunia bahwa Nepal bukanlah tempat yang aman bagi pedofil," kata wakil kepala polisi kepolisian Nepal, Kabit Katawal.
Dalglish, yang menghabiskan hampir 20 tahun bekerja di Afrika, Afghanistan dan Asia, berencana mengajukan banding atas putusan itu, kata pengacaranya.
Selama karirnya, Dalglish yang dipekerjakan oleh organisasi-organisasi bantuan besar seperti PBB, mendirikan badan amal sendiri, Street Kids International, dan memenangkan penghargaan bergengsi atas kiprahnya.
Namun karier Dalglish terhenti tiba-tiba pada April tahun lalu, ketika polisi menyerbu rumah yang ia bangun di kaki pegunungan Himalaya, sekitar dua jam perjalanan dari Kathmandu. Polisi menemukan dua bocah lelaki berusia 12 dan 14 tahun di dalam dan menahan Dalglish.
Dalam sebuah wawancara Oktober lalu dalam program 101 East Programme, di sebuah penjara di luar Kathmandu, Dalglish bersikeras bahwa dia pria tak bersalah yang terjebak.
"Saya akan mendapatkan kebebasan," katanya. "Saya cinta negara ini. Saya akan terus berjuang untuk melindungi anak-anak. Perempuan dan laki-laki. Saya bukan seorang pedofil. Dan saya tidak pernah menyalahgunakan atau menyentuh anak mana pun dengan tidak pantas," lanjutnya.
Saat Aljazeera mengunjungi desa di dekat rumah Dalglish, tokoh di desa itu, Bikram Tamang mengatakan penangkapan Dalglish mengagetkan warga.
Organisasi bantuan internasional mendapat kecaman dalam beberapa tahun terakhir terkait kasus pelecehan seksual. Handrahan, pakar kemanusiaan, percaya kasus Dalglish akan menjadi peringatan, namun juga khawatir sebagian besar kasus yang sama telah diabaikan.
"Saat ini, sektor bantuan internasional menolak untuk melihat kasus Dalglish atau salah satu dari banyak tanda peringatan, laporan dan tuduhan bahwa pelecehan seksual anak merajalela dalam pekerjaan kita. Pelapor dibungkam dan dipaksa keluar. Menutupi, menyangkal, melindungi predator tetap menjadi norma," jelasnya.
Handrahan mengatakan, lembaga bantuan perlu lebih waspada bagaimana predator beroperasi, merawat dan mengakses korban dengan memanfaatkan pekerjaannya, dan melakukan pemeriksaan latar belakang pekerja yang komprehensif, berhubungan dengan penegakan hukum dan memantau staf mereka menggunakan jaringan elektronik.
Tuduhan pelecehan oleh pekerja kemanusiaan terhadap anak-anak dan perempuan juga muncul dari negara-negara seperti Haiti, di mana staf Oxfam dituduh membayar korban gempa untuk hubungan seks.
Sebuah laporan yang dirilis pada bulan Juli tahun lalu oleh anggota parlemen Inggris menemukan, lembaga bantuan telah menyadari eksploitasi seksual dan pelecehan oleh stafnya sendiri selama bertahun-tahun, tetapi gagal menangani masalah tersebut secara memadai.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya