Wali Kota Amsterdam Ingin Tutup Lokalisasi Red Light District
Merdeka.com - Wali kota perempuan pertama Amsterdam, Famke Halsema mempertimbangkan menutup tempat lokalisasi prostitusi karena alasan kondisi para pekerja seks yang memprihatinkan.
Halsema yang merupakan pemimpin Partai Hijau dan menjabat wali kota setahun lalu mengatakan Kota Amsterdam 'harus berani membayangkan kawasan red light district di kota itu tanpa prostitusi'.
Laman the Guardian melaporkan, Kamis (4/7), Halsema akan memulai konsultasi soal ini pada musim panas dengan tujuan memberantas perdagangan manusia dan mengurangi jumlah turis di sepanjang jalan sempit sisi kanal Singel and De Wallen.
"Tujuan ini tidak bisa diganggu gugat," kata Halsema kepada harian Het Parool. "Sejak dulu ada kesan para pelaut yang sudah berlayar berbulan-bulan akan mampir ke red light district untuk mencari 'perempuan nakal' Belanda. Tapi situasinya sekarang di kawasan itu sudah lebih banyak perempuan asing yang kita tidak tahu bagaimana mereka bisa terdampar di sana kemudian bersenang-senang dan berfoto."
Pilihan lain dari penutupan lokalisasi terkenal di Belanda ini adalah melarang rumah bordil menampilkan para pekerja seks di jendela etalase tapi masih membolehkan prostitusi, merelokasi sejumlah jendela etalase, atau menambah jumlah jendela etalase untuk mengurangi permintaan tapi juga memasang pintu putar di jalan tertentu supaya orang yang melewati jalan itu tanpa bermaksud mencari pekerja seks tidak harus melihat ke jendela.
Perdebatan soal ini akan digelar di Balai Kota Compagnietheater pekan depan.
Partai Hijau menduduki 10 kursi dari 45 kursi dewan tapi partai itu meraih dukungan dari kelompok liberal dan Sosialis untuk rencana memindahkan lokasi red light district.
Halsema menolak kebijakan yang mana yang dia dukung.
"Kepemimpinan modern itu melayani, bukan diktator," kata dia. Diskusi soal prostitusi kini sangat terpolarisasi dan moralistik. Prostitusi adalah fenomena sejarah di pusat kota. Butuh waktu dan uang untuk melakukan sesuatu. Diperlukan konsensus bersama untuk itu tapi keputusan final ada di tangan dewan. Saya yang memimpin diskusi."
Halsema menuturkan dia adalah orang yang pragmatis dan tidak akan menentang hak perempuan untuk terlibat dalam pekerjaan seks di Amsterdam.
Jika keputusannya adalah lokalisasi ditutup maka "dewan akan mempertimbangkan mendirikan lokasi penggantinya di bagian lain kota dan di sana para pekerja seks akan menyewa kamar hotel dan hanya orang yang memang membutuhkan pelayanan mereka saja yang datang ke hotel itu," kata Halsema.
"Tentu akan ada banyak protes, tapi ingat juga bahwa prostitusi kini ditempatkan di lokasi sekitar orang tinggal dengan relatif aman dan nyaman. Semua orang punya rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain. Tapi secara umum warga Amsterdam adalah orang yang toleran," ujar Halsema.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya