Uni Eropa Desak AS Tekan Iran Lebih Keras
Merdeka.com - Para pemimpin Eropa mendesak Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo, agar memberi tekanan lebih keras terhadap Iran. Desakan ini muncul setelah tuduhan Arab Saudi atas sabotase terhadap dua kapal tanker minyak miliknya di Selat Hormuz akhir pekan kemarin.
Kepala urusan luar negeri Uni Eropa (UE), Federica Mogherini, memperingatkan Pompeo dalam pertemuan mendadak di Brussels: "Kita hidup di saat-saat sulit yang krusial di mana sikap paling bertanggung jawab untuk diambil adalah pengendalian maksimum, dan menghindari eskalasi pihak militer."
Dilansir dari The Guardian pada Selasa (14/5), ketegangan meningkat dalam beberapa pekan terakhir karena AS menjatuhkan sanksi maksimum terhadap Iran, termasuk mengakhiri semua keringanan ekspor minyak Teheran, dan memblokir kerja sama pada program nuklir sipil negara itu. Di lain pihak, Menteri Luar Negeri Inggris, Jeremy Hunt, memperingatkan tentang konflik yang meletus di Teluk Persia secara tidak sengaja, dan menyerukan agar berbagai pihak saling menenangkan diri.
Tetapi Iran, yang frustrasi pada ketidakmampuan UE untuk melindungi ekonomi mereka, menanggapi tekanan kumulatif AS pada Rabu pekan lalu, dengan mengatakan pihaknya sedang mempersiapkan langkah-langkah awal untuk menjauhkan diri dari kesepakatan nuklir, yang ditandatangani bersama UE, AS, China, dan Rusia.
Mogherini mendesak pengekangan maksimum, sebagai tandingan eksplisit terhadap seruan AS atas sanksi maksimum. Dia mengatakan, pengawas energi dari PBB, IAEA, adalah satu-satunya badan yang mampu menyatakan apakah Iran melanggar perjanjian atau tidak.
Sementara itu, Mogherini menolak berkomitmen agar Eropa mengambil minyak Iran sebanyak 1,5 juta barel per hari, tetapi bersikeras UE akan menggunakan semua instrumennya untuk melaksanakan perjanjian nuklir secara penuh.
Dia berharap transaksi pertama akan berlangsung dalam pekan ke depan, di bawah instrumen untuk mendukung perdagangan dan pertukaran (Instex) berbasis sistem kompleks, yang dirancang untuk memfasilitasi perdagangan dengan Iran tanpa bantuan perbankan.
Sistem ini dipandang oleh Teheran sebagai ujian lakmus, atas kesediaan Eropa untuk mendukung peningkatan ekonomi Iran.
Reporter: Happy Ferdian Syah UtomoSumber: Liputan6
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya