Uber dituding 'mencuri' upah sopir di New york
Merdeka.com - Entah bagaimana dengan di Indonesia, tetapi hal ini terjadi di Amerika Serikat. Perusahaan aplikasi transportasi daring, Uber, mengaku salah karena terlampau banyak memotong upah pengemudi dan mesti mengganti rugi sebesar USD 10 miliar, atau setara lebih dari Rp 133 miliar.
Kecurangan itu ternyata sudah terjadi selama dua setengah tahun di New York, Amerika Serikat. Mestinya Uber hanya mengambil bagian sekitar 20 persen hingga 25 persen dari bayaran para pengemudi, setelah dipotong pajak dan tunjangan bagi sopir. Namun, ternyata mereka mengambil jatah buat perusahaan langsung dari tarif ditetapkan tanpa potongan lebih dulu. Hal itu membikin pemasukan didapat lebih banyak mengalir ke Uber ketimbang sopir.
Dilansir dari laman The Guardian, Rabu (24/5), dugaan kecurangan pembayaran komisi itu sudah tercium sejak setahun lalu. Yakni dengan diajukannya gugatan class action terhadap Uber oleh Aliansi Sopir Taksi New York (NYTWA). Gugatan itu diajukan ke Pengadilan Federal New York pada Juni 2016. Isinya adalah mereka merasa pemotongan jatah buat Uber diduga melanggar aturan. Bahkan mereka menduga Uber sengaja mencuri upah para sopir.
Alhasil, kini Uber mesti mengganti rugi upah dikentit dari para sopir. Dikabarkan masing-masing dari mereka bakal menerima hingga USD 900, atau hampir Rp 12 juta seorang.
"Kami berjanji akan membayarkan upah para sopir tanpa kurang sepeser pun, ditambah bunga, secepatnya. Kami bekerja keras buat mendapatkan kembali kepercayaan sopir. Dan itu artinya kami harus terbuka serta menepati janji," kata General Manajer Uber Regional Amerika Serikat dan Kanada, Rachel Holt.
Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif NYTWA, Bhairavi Desai, sepakat Uber cepat merespon masalah. Namun, dia dan para sejawatnya masih merasa cara Uber memotong upah para sopir dengan alasan pajak dan tunjangan terlebih dulu masih dirasa tidak tepat.
"Uber bukan cuma keliru menghitung komisi, tetapi juga tidak sesuai aturan dengan memangkas bayaran para sopir dengan alasan pajak dan tunjangan kecelakaan secara langsung. Kalau sesuai hukum, hal itu dimasukkan di dalam tarif," kata Desai.
Desai menduga Uber ingin menghindari pengadilan dan meredam protes para sopir dengan berjanji memberikan ganti rugi setelah kebobrokannya terbongkar. Namun, dia tidak yakin masalah itu tak terulang di lain waktu.
"Kerja bagus. Kami akan bertemu kalian (Uber) di pengadilan untuk memenangkan semua hak pengemudi," ujar Desai.
Serikat Buruh Sopir Independen New York yang ikut mengawal kasus ini juga tidak langsung percaya dengan sikap Uber. Mereka meminta pemerintah setempat menyelidiki secara menyeluruh proses pembayaran upah pengemudi perusahaan aplikasi transportasi itu.
"Praktik pencurian bayaran para pengemudi itu adalah salah satu dari sejarah panjang taktik culas di bisnis transportasi. Inilah yang mendasari mengapa kami meminta adanya perlindungan terhadap upah buat menghentikan eksploitasi terhadap para sopir di New York," kata pendiri Serikat Buruh Sopir Independen New York, Jim Conigliaro, Jr.
Hal ini menambah cela Uber dalam memperlakukan pengemudinya. Mereka menyatakan status sopir adalah kontraktor mandiri ketimbang karyawan. Dengan cara itu, Uber bisa menghindari aturan membayar upah minimum buat para sopir atau beragam tunjangan.
Perusahaan itu sudah berkali-kali digugat. Ini juga kali kedua Uber mengakui membayar upah para pengemudinya di Amerika Serikat di bawah rata-rata. Maret lalu, perusahaan membayar ganti rugi terhadap pengemudi UberBlack di Philadelphia, setelah bayaran para sopir dikenai potongan tambahan lima persen selama 18 bulan tanpa alasan jelas.
Malah pada Januari tahun ini, Uber membayar USD 20 juta kepada para sopir. Sebabnya para pengemudi melapor kepada Komisi Perdagangan Federal karena merasa dibohongi dengan janji Uber bakal menaikkan upah.
Skandal juga tidak lepas dari Direktur Eksekutif Uber, Travis Kalanick. Dia dituding melakukan pelecehan seksual dan pembedaan gender, serta sengketa dengan perusahaan Alphabet. Pada Maret lalu, 500 ribu pengendara memilih mematikan akun Uber mereka sebagai bentuk protes terhadap praktik perusahaan dianggap licik.
(mdk/ary)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya