Turki pulihkan hubungan dengan Rusia, ini dampak bagi Timur Tengah
Merdeka.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berharap bisa memperbaiki hubungan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membuka lembaran baru hubungan bilateral di antara kedua negara. Erdogan akan melawat ke Rusia besok untuk berbicara dengan Putin.
"Kunjungan ini akan bersejarah, sebuah awal baru. Saat berbicara dengan teman saya Vladimir (Putin), saya yakin, sebuah hubungan bilateral baru akan terbuka," ujar Erdogan, seperti dikutip kantor berita Rusia TASS.
Sejak sebelum kudeta militer yang gagal 15 Juli lalu Erdogan sudah berusaha memperbaiki hubungan dengan Negeri Beruang Merah setelah insiden militer Turki menembak jatuh jet tempur Rusia di perbatasan Suriah delapan bulan lalu.
Seperti dikutip Business Insider, pekan lalu, Erdogan dilaporkan menulis surat untuk Putin Juni lalu dengan menyampaikan permohonan maaf.
"Saya sekali lagi menyampaikan simpati dan rasa duka cita yang mendalam kepada keluarga dari pilot Rusia yang tewas, dan saya meminta maaf kepada mereka," tulis Erdogan, seperti dilaporkan Kremlin.
Upaya perbaikan hubungan dengan Rusia saat ini semakin dirasa perlu setelah Erdogan mendapat kecaman dari negara Barat dan Amerika Serikat lantaran menindak keras para pelaku kudeta militer yang gagal.
Rusia menjadi salah satu negara pertama yang mengutuk upaya kudeta 15 Juli lalu. Turki tentu mengapresiasi pernyataan Rusia tersebut.
"Kami berterima kasih kepada pemerintah Rusia, khususnya Presiden Putin. Kami menerima dukungan dari Rusia, tidak seperti negara lain," ujar menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu kepada stasiun televisi Haberturk bulan lalu.
Menurut pengamat Timur Tengah Marc Pierini dari lembaga Carnegie Eropa, Rusia kini sedang menjalankan rencana jangka panjang untuk menarik Turki menjauhi negara Barat.
"Tidak seperti negara Barat, Rusia tidak masalah dengan kepemimpinan otoriter ala Turki. Sebaliknya, Rusia memperlihatkan bahwa gaya pemerintahan yang keras itu berguna bagi Turki, sedangkan Uni Eropa dan AS justru mempertanyakan demokrasi liberal ala Turki," kata Pierini.
Namun kendala di antara dua negara ini adalah dalam isu Suriah. Rusia selama ini (mdk/pan)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya