Turki dan Israel sepakat berbaikan usai 6 tahun putus hubungan
Merdeka.com - Turki dan Israel sepakat menormalisasi hubungan diplomatik setelah enam tahun saling memutus komunikasi. Kesepakatan ini tercapai karena Israel bersedia memberi ganti rugi senilai USD 20 juta terhadap keluarga 10 korban tewas penyerangan kapal bantuan Mavi Marmara oleh tentara Zionis.
BBC melaporkan, Senin (28/6), kompensasi dari Israel itu diumumkan oleh Perdana Menteri Turki Binali Yildirim. Selain ganti rugi, Yildirim mengatakan Turki mendapat akses untuk membangun proyek infrastruktur serta menyalurkan bantuan di Jalur Gaza maupun Tepi Barat. Jumlah bantuan yang akan dikirim dalam waktu dekat mencapai 10 ribu ton sembako dan obat-obatan.
Negosiasi Turki-Israel menormalisasi hubungan sudah berlangsung sejak tahun lalu. Penjajakan awal dimulai bahkan sejak 2013, ketika misi dagang kedua negara berkomunikasi melalui saluran telepon. Pada pertemuan di Ibu Kota Roma, Italia, Minggu (26/6), diplomat kedua negara meneken naskah kesepakatan.
Turki menganggap kesepakatan damai kedua negara sebagai kemenangan diplomatik. Sedangkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan normalisasi hubungan dengan Turki akan membawa stabilitas bagi Timur Tengah.
"Dalam waktu dekat kedua negara akan menunjuk duta besar masing-masing," kata Yildirim dalam konferensi pers di Ibu Kota Ankara.
Ada tiga syarat yang diajukan Turki untuk kembali berbaikan dengan Israel. Pertama pemerintah Israel wajib meminta maaf atas serangan terhadap kapal Mavi Marmara. Syarat kedua, keluarga aktivis yang tewas wajib memperoleh kompensasi. Dua syarat ini dipenuhi oleh Negeri Bintang Daud.
Kapal bantuan internasional berangkat dari Turki itu pada 2010 diserang oleh militer Israel saat menuju Jalur Gaza. Akibatnya 10 aktivis tewas ditembak, sedangkan belasan lainnya luka-luka. Imbas dari Mavi Marmara, Turki memutus hubungan dengan Israel.
Adapun syarat ketiga, pembukaan blokade atas Jalur Gaza, tidak dipenuhi. Namun sebagai jalan tengah, Turki akhirnya diberi akses mengirim bantuan melalui pelabuhan Israel.
Turki butuh berbaikan dengan Israel untuk memperoleh pasokan impor gas. Saat ini, negara bekas Kekaisaran Ottoman itu sedang terancam krisis energi karena mendapat sanksi ekonomi dari Rusia akibat insiden jatuhnya sukhoi di Suriah.
(mdk/ard)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya