Tujuh orang tewas dalam bentrokan usai pemilu Venezuela
Merdeka.com - Presiden terpilih Venezuela, Nicolas Maduro, kemarin menuduh kelompok oposisi telah merencanakan kudeta setelah tujuh orang pendukung pemerintah tewas saat terjadi bentrok terkait hasil pemilihan umum.
Kantor berita Reuters melaporkan, Rabu (17/4), pemimpin oposisi Henrique Capriles menginginkan penghitungan ulang hasil pemilihan umum yang digelar Ahad kemarin setelah hasil resmi menyatakan kemenangan bagi Maduro, yang sebelumnya menjabat sebagai presiden sementara menggantikan mendiang Presiden Hugo Chavez.
Demonstrasi dari kelompok oposisi di luar kantor Komisi Pemilihan Umum di seantero Venezuela berlangsung damai kemarin. Hal ini berbeda dengan apa yang terjadi ketika unjuk rasa berlangsung Senin malam, di mana sejumlah anak-anak muda di Ibu Kota Caracas serta di beberapa kota lainnya memblokir jalan, membakar ban, dan bentrok dengan polisi.
Polisi mengatakan dari ketujuh korban tewas itu, dua di antaranya meninggal akibat ditembak oleh simpatisan oposisi saat merayakan kemenangan Maduro di kawasan kelas menengah di Caracas. Sementara satu orang lainnya tewas dalam serangan terhadap sebuah klinik pemerintah.
"Ini adalah tanggung jawab dari mereka yang telah memicu unjuk rasa dengan kekerasan, dan telah mengabaikan konstitusi serta lembaga-lembaga negara," kata Maduro. "Rencana mereka adalah kudeta."
Polisi juga menyatakan lebih dari 60 orang cedera akibat bentrok itu. Polisi mengatakan 170 orang ditangkap terkait aksi kerusuhan itu.
Maduro mengatakan dirinya tidak akan mengizinkan unjuk rasa dari kelompok oposisi yang bakal digelar pada hari ini di Ibu Kota Caracas. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya