Trauma Charlie Hebdo, Prancis tambah ribuan polisi antiteror
Merdeka.com - Pemerintah Prancis mengakui trauma atas serangan beruntun bermotif terorisme yang terjadi awal tahun ini. Khususnya serbuan kantor Tabloid Charlie Hebdo yang bisa terjadi hanya 20 menit setelah rombongan presiden lewat.
Perdana Menteri Manuel Valls menyatakan evaluasi menyeluruh soal intelijen sudah dijalankan. Kesimpulannya, mereka perlu menambah tenaga polisi, tentara, hingga kontraintelijen berfokus pada aktivitas antiteror.
"Kami memperkirakan perlu menambah 1.100 intel polisi dalam tiga tahun mendatang," ujarnya saat membuka Seminar "Mobilisasi Kontra Terorisme" di Paris, seperti dilansir BBC, Kamis (22/1).
Jumlah sebanyak itu di luar pembukaan lapangan kerja bagi 2.680 tenaga sipil untuk posisi analis terorisme di tiga instansi, mulai dari Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertahanan, dan Kementerian Keuangan.
Pemerintah Prancis sekaligus batal memangkas 7.500 tentara dan polisi, yang awalnya hendak dilakukan untuk penghematan anggaran. "Kami akan menyisihkan anggaran ekstra untuk aktivitas antiteror senilai USD 490 juta (Rp 6,1 triliun)," kata Valls.
Tujuan dari perang besar-besaran ini adalah mengawasi 3.000 orang terduga teroris di Prancis secara lebih massif. Mereka terkait dengan Al Qaidah, ISIS, dan bermacam organisasi teror sayap kanan lainnya.
Valls menyatakan, staf ahlinya menyimpulkan jumlah intel di Prancis selama ini kurang. Agen lapangan cuma 20 orang yang aktif setiap hari. Sementara jaringan sel radikal teroris jumlahnya ribuan di kota-kota yang banyak imigran.
Prancis merupakan negara Eropa yang jumlah warganya berangkat ke Suriah paling banyak. Para simpatisan ISIS dari Negeri Anggur itu mencapai 500-an orang.
(mdk/ard)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya