Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tragedi krisis migran Eropa, 500 orang tenggelam menuju Italia

Tragedi krisis migran Eropa, 500 orang tenggelam menuju Italia Kapal imigran karam di dekat perairan Italia. ©2015 AFP PHOTO/ARIS MESSINIS

Merdeka.com - Badan PBB untuk Pengungsi (UNHCR) menyatakan sebuah kapal mengangkut 500 imigran asal Afrika sepertinya tenggelam di Laut Mediterania. Jika terkonfirmasi, maka insiden ini menjadi salah satu yang terburuk dan paling mematikan sepanjang Krisis Migran menuju Eropa setahun terakhir.

Beberapa korban selamat sudah berhasil dievakuasi oleh kapal-kapal yang melintas. Mereka adalah imigran asal Libya yang hendak menuju Italia.

Dalam keterangan pers tertulis, Kamis (21/4), UNHCR menyatakan para korban selamat mengaku dibagi menjadi lima kelompok berisi 100 hingga 200 orang.

"Mereka berangkat dari Kota Tobruk di Libya, diangkut kapal berukuran 30 meter," seperti dikutip dari pernyataan UNHCR.

Kapal terbalik itu terjadi, kemungkinan besar saat nahkoda memaksa para imigran pindah ke kapal lain karena kelebihan muatan di tengah jalan.

UNHCR menyatakan korban selamat sejauh ini terdiri dari 41 orang, 37 di antaranya lelaki, tiga perempuan, dan satu anak lelaki. Korban mengaku sudah terapung di lautan tiga hari memakai sekoci, sebelum akhirnya diselamatkan kapal dagang yang melintasi Laut Mediterania.

Imigran itu berasal dari Somalia, Etiopia, Mesir, serta Sudan. Mereka sekarang sedang dirawat di Kalamata.

Sebelum insiden ini, tragedi terburuk terkait upaya imigran menembus Eropa juga dari Laut Libya. Pada April 2015, 740 orang dikhawatirkan tewas karena kapal mereka terbalik.

Eropa sejak awal 2015 mengalami krisis migran terparah sejak Perang Dunia ke-2. Akibat perang suriah, jutaan pengungsi membanjiri 28 negara Uni Eropa. Namun, belakangan, imigran asal Afrika serta Timur Tengah ikut memanfaatkan situasi, memicu perbedaan pendapat di kalangan negara Benua Biru yang sebagian menolak, dan lainnya menerima kehadiran imigran.

Awal tahun ini, Uni Eropa meminta bantuan Turki agar menghambat arus imigran, dengan imbal balik bantuan keuangan. Sedangkan 10 ribu migran lainnya masih tertahan di Camp Idomeni, Yunani, karena Eropa kini sudah tak lagi membuka kuota untuk pengungsi. (mdk/ard)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP