TKI dengan visa kedaluwarsa paling rentan jadi PSK
Merdeka.com - Hebohnya kasus pembunuhan dua tenaga kerja Indonesia (TKI) di Hong Kong oleh seorang warga negara Inggris menjadi perbincangan masyarakat. Dua buruh migran tersebut diduga nyambi menjadi pekerja seks komersial (PSK) di bekas koloni Inggris tersebut.
Menilik kasus nahas di Hong Kong, Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah meyakini itu merupakan persoalan laten dari para TKI yang kehabisan masa tinggal (overstay).
Dia mengatakan buruh migran yang jadi PSK di luar negeri, selalu pada dasarnya bukan keinginan sendiri. Sebagian dari mereka merupakan korban dari perdagangan manusia.
"Faktor itu bukan keinginan mereka, mereka adalah korban," kata Anis saat di hubungi merdeka.com, Jumat (7/11).
Anis mengatakan para TKI yang berada di luar negeri memilih overstayer, rata-rata akibat desakan ekonomi. Sementara untuk memperpanjang visa, membutuhkan dana yang tidak sedikit atau mahal.
Menurut Anis, TKI berstatus overstayer tidak hanya terjadi di Hong Kong, namun di negara-negara lain seperti Malaysia dan Arab Saudi juga banyak.
Bahkan di Arab Saudi ancaman bermacam masalah sosial akibat keberadaan TKI overstayer perlu diwaspadai pemerintah. "Di Arab Saudi itu ada 101 ribu lebih buruh migran yang overstayer," kata Anis.
Aktivis buruh migran ini mengingatkan pemerintah harus mengatasi masalah utama dari seluruh cerita pilu mengenai TKI. Yakni perlindungan komprehensif sejak berangkat sampai pulang, serta meningkatkan skill para buruh migran. Baik itu lelaki maupun perempuan.
"Tahu apa penyebab overstayer? Karena pemerintah sendiri tidak mau tahu," ujarnya.
(mdk/ard)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya