Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tiga Tahun Berselisih, Saudi Buka Kembali Perbatasan & Wilayah Udaranya untuk Qatar

Tiga Tahun Berselisih, Saudi Buka Kembali Perbatasan & Wilayah Udaranya untuk Qatar pangeran muhammad bin salman. ©independent

Merdeka.com - Arab Saudi akan membuka kembali perbatasan dan wilayah udaranya untuk Qatar setelah menutupnya tiga tahun dan menyerukan negara sekutunya untuk mengisolasi Doha. Hal ini disampaikan Menteri Luar Negeri Kuwait pada Senin.

Pengumuman mengejutkan ini disampaikan pada malam pembukaan KTT tahunan Dewan Kerjasama Teluk (GCC) di kota Al-Ula, Arab Saudi, di mana perselisihan kedua negara dijadwalkan menjadi salah satu pembahasan utama dalam agenda tersebut.

"Berdasarkan usulan Sheikh Nawaf (Emir Kuwait), disetujui untuk membuka wilayah udara dan perbatasan darat dan laut antara Kerajaan Arab Saudi dan Negara Qatar, mulai malam ini," jelas Menteri Luar Negeri Kuwait, Ahmad Nasser Al-Sabah di televisi nasional, dikutip dari France 24, Selasa (5/1).

Riyadh memimpin koalisi negara-negara Teluk dan sekitarnya yang memutuskan hubungan dengan Doha 3,5 tahun lalu, menuduh Doha terlalu dekat dengan Teheran dan mendukung kelompok-kelompok Islam radikal - tuduhan yang selalu dibantah Qatar.

Washington meningkatkan tekanan untuk resolusi terhadap apa yang disebut Doha sebagai "blokade", bersikeras bahwa persatuan Teluk diperlukan untuk mengisolasi musuh bebuyutan AS, Iran.

GCC adalah blok yang terdiri dari negara-negara yang melakukan boikot yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Bahrain, Kuwait dan Oman yang netral, dan Qatar.

Permintaan Emir Qatar

qatarRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

GCC yang dipimpin Saudi, bersama dengan Mesir, pada Juni 2017 menutup wilayah udaranya untuk pesawat Qatar, menutup perbatasan dan pelabuhan, dan memulangkan warga Qatar.

Di dunia maya, terjadi perang informasi kedua negara, memperdalam perselisihan.

Para pengamat mengatakan, pembekuan diplomatik hanya membuat Qatar lebih mandiri dan mendorongnya lebih dekat ke Iran. Hal itu juga merugikan kepentingan strategis Saudi.

Para pengamat menduga, Riyadh mencabut larangan tersebut atas desakan Doha sebelum setuju untuk mengirim penguasanya Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani ke KTT GCC.

Al-Thani melewatkan pertemuan GCC tahunan sejak krisis diplomatik meletus pada 2017, dan banyak yang menantikan informasi apakah dia hadir kali ini. Namun sejauh ini belum ada pengumuman apakah dia akan hadir.

Para analis dan diplomat mengatakan, setiap pemulihan hubungan di KTT itu mungkin terbukti sebagai permulaan dan sedikit yang mengharapkan resolusi komprehensif untuk perselisihan itu.

Pada awal krisis, negara-negara yang memboikot Qatar mengeluarkan daftar 13 tuntutan untuk Doha, termasuk penutupan saluran televisi satelit pan-Arab Al Jazeera, usaha untuk pendanaan "teror", dan penutupan pangkalan militer Turki di Qatar.

Qatar belum secara terbuka tunduk pada tuntutan apa pun.

Pada November 2020, penasihat keamanan nasional AS, Robert O'Brien mengatakan, mengizinkan pesawat Qatar terbang di atas Arab Saudi melalui "jembatan udara" adalah prioritas bagi pemerintahan Trump.

Media Iran mengatakan Qatar telah membayar lebih dari USD 100 juta setiap tahun untuk menggunakan wilayah udara Teheran untuk melewati Arab Saudi.

Sebagai gantinya, para analis menduga Qatar menyetujui mengurangi liputan media Arab Saudi, termasuk oleh Al Jazeera.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP