Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tidak ada alih teknologi buat Proton

Tidak ada alih teknologi buat Proton Sales Promotion Girl Proton salam Indonesia International Motor Show 2011. (www.bajingloncat.com)

Merdeka.com - Hal paling vital dalam bangkrutnya proyek mobil nasional Malaysia, Proton, adalah mereka mengharapkan agar Mitsubishi sebagai konsultan teknis dan rekanan mau membagi rahasia dalam bidang indsutri otomotif. Tentu hal itu mustahil buat pabrikan berlambang tiga berlian asal Jepang itu.

Menurut kolumnis Koon Yew Yin dalam situs www.malaysiakini.com, 30 Mei lalu, itu adalah kesalahan utama Mahathir Muhammad lantaran mengabaikan prinsip ekonomi dasar dalam industri otomotif, yaitu Malaysia tidak memahami bagaimana cara membuat sebuah mobil yang bisa bersaing dengan pabrikan lain di dunia.

Malaysia juga tidak siap melihat gelagat setengah hati Mitsubishi dalam alih teknologi yang sebenarnya hampir tidak pernah terjadi.

Tidak mungkin pabrikan sekelas Mitsubishi mau membuka rahasia produk otomotif mereka kepada rekanan sekalipun, apalagi kompetitor. 

Mitsubishi pasti melakukan riset bertahun-tahun buat menemukan formula nomor wahid tiap produk otomotifnya. Pastinya hal itu juga menelan banyak biaya dan usaha. Maka dari itu sangat tidak logis jika Malaysia dengan bangga mengatakan pabrikan Jepang itu mau membuka seluruh catatan penelitian mereka buat menyempurnakan Proton.

Mitsubishi paham Proton tidak mungkin melangkah lebih jauh tanpa bantuan mereka. Maka dari itu pabrikan Jepang itu santai saja sembari mengangguk keuntungan, sementara mobil Melayu itu terengah-engah bertahan hidup.

Carut-marut manajemen juga menjadi salah satu penyebab keuntungan Proton terjun bebas. Sebelum pabrik mobil Melayu itu diambil alih swasta, mereka mencatat keuntungan penjualan sebanyak 4 miliar Ringgit di bawah kepemimpinan Tengku Mahalil Arif. Tetapi saat dipegang oleh Muhammad Azlan Hashim malah rugi 3,4 miliar Ringgit.

Bahkan pemerintah Malaysia susah payah membuat aturan agar masyarakat mau membeli mobil Melayu itu dengan cara menaikkan semua bea masuk kendaraan impor dan suku cadangnya. Alhasil, selama 30 tahun warga negeri jiran itu menderita karena harus membayar mahal semua merek kendaraan roda empat, termasuk Proton. Tetapi apa daya, rakyat dengan kocek pas-pasan tidak sanggup membeli mobil merek ternama. (mdk/fas)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP