Thaksin Shinawatra diduga hina Kerajaan Thailand, tapi tak kunjung ditangkap
Merdeka.com - Mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra (68), kembali dibelit masalah. Kejaksaan Agung Thailand menyatakan kembali menerbitkan surat perintah penyidikan Thaksin atas dugaan penistaan kerajaan dan kejahatan siber.
Meski demikian, Jaksa Agung Thailand, Kemchai Chutiwong, tidak merinci penghinaan seperti apa dilakukan oleh Thaksin terhadap Kerajaan Thailand. Apalagi sampai saat ini Thaksin yang sudah diketahui berada di Dubai, Uni Emirat Arab, tak kunjung ditangkap. Padahal, dia sudah terbukti terlibat dua perkara korupsi, dan sudah dijatuhi putusan bersalah serta penjara selama dua tahun.
"Kami akan meminta Divisi Kejahatan Siber buat menerbitkan surat penangkapan terhadap Thaksin, atas sangkaan menghina kerajaan dan kejahatan siber. Kami akan membentuk komite khusus buat mengurus kasusnya dan diserahkan ke Mahkamah Agung," kata Kemchai, seperti dilansir dari laman benarnews, Senin (9/10).
Thaksin yang merupakan pengusaha telekomunikasi terpilih menjadi perdana menteri Thailand, tetapi dikudeta pada 2006. Saat itu dia tengah menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat. Dia lalu pergi dan tinggal dalam pengasingan, hingga kembali ke Negeri Gajah Putih dua tahun kemudian. Namun, dia tidak berlama-lama dan kabur sebelum divonis oleh pengadilan dalam dua perkara korupsi.
Sedangkan sang adik, Yingluck Shinawatra, juga sama-sama terbelit perkara korupsi.
Mahkamah Agung Thailand sudah menerbitkan tiga surat perintah penangkapan terhadap Yingluck. Dia dicari karena mangkir dari persidangan, lari dari vonis lima tahun penjara, dan diburu karena kabur ke luar negeri saat menjalani proses hukum.
Pemerintah Thailand kini mengerahkan segala cara buat menangkap Yingluck dan Thaksin. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Busadee Santipitaks, mengatakan mereka bakal mencabut paspor Yingluck. Akhir pekan lalu polisi juga menggeledah rumah perempuan itu.
Vonis Mahkamah Agung Thailand terhadap Yingluck dibacakan secara in absensia. Majelis hakim menyatakan Yingluck bersalah karena mengabaikan peringatan kalau bakal terjadi korupsi dalam proyek subsidi beras, dan dia dianggap melalaikan tugas.
Aparat Thailand sudah menggelar penyelidikan mengapa Yingluck bisa kabur. Tiga polisi diduga membantunya kabur ke luar negeri.
Yingluck dikudeta tiga tahun lalu. Konflik antara kaum elit konservatif dan orang-orang kaya Thailand dibantu militer dengan dinasti Shinawatra mewarnai politik Negeri Gajah Putih selama lebih dari satu dekade. Thaksin juga tersingkir dari puncak kekuasaan karena kudeta pada 2006.
Dinasti Shinawatra sangat populer di mata penduduk daerah pedesaan. Mereka adalah pemilih loyal dan membantu Thaksin serta Yingluck memenangkan pemilihan umum. Namun, proyek pembelian beras di atas harga normal dianggap cuma pencitraan terhadap pendukung klan Shinawatra. Sebab, beras itu tidak mungkin diekspor karena pemerintah bakal rugi.
Ujungnya mereka malah menimbun beras dan merusak harga di dunia. Namun, celah itu justru disambar oleh Vietnam yang kini menjadi eksportir beras nomor satu di dunia.
Yingluck merasa tidak bersalah dan menuduh kasusnya dibuat-buat. Konon karena kebijakannya, pemerintah junta militer Thailand mengatakan negara merugi USD 8 juta.
Karena khawatir bakal dihukum berat, Yingluck kabur ke Dubai. Dia sempat bersembunyi di rumah Thaksin di kompleks Emirates Hills. Thaksin juga lari dari proses hukum perkara rasuah membelitnya.
Kini, Yingluck dikabarkan mengajukan suaka politik di Inggris. Kendati demikian, Kantor Urusan Dalam Negeri Inggris yang biasa mengurus soal suaka menolak berkomentar ketika ditanyakan perihal permohonan suaka politik Yingluck. (mdk/ary)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya