Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tentara Filipina menduga 10 WNI disekap Abu Sayyaf di Tawi-Tawi

Tentara Filipina menduga 10 WNI disekap Abu Sayyaf di Tawi-Tawi Kapal Brahma 12 dilepas setelah awaknya diculik Abu Sayyaf. ©2016 Merdeka.com/Istimewa

Merdeka.com - Sepuluh anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang ditawan oleh kelompok Abu Sayyaf diduga berada di perairan Tawi-Tawi, Filipina. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh komandan militer yang memimpin Satuan Tugas Pengamanan ZamBaSulTa (Zamboanga, Sulu, Basilan, dan Tawi-Tawi) Mayor Jenderal Demy Tejares.

Tejares jugalah yang pertama mengumumkan kepada awak media di Filipina, bahwa dua kapal tug milik Taiwan, dengan nahkoda dan ABK WNI, dibajak dari Kota Tapul dekat perbatasan Malaysia.

Indikasi awal bahwa para WNI itu dibawa ke Tawi-Tawi, didasarkan militer Filipina pada penemuan bangkai tugboat yang terdampar di Pulau Languyan.

"Kapal tug Indonesia dengan nama Brahman 12, sedang berlayar di dekat Pulau Tambulian, Kota Tapul ketika perahu dibajak orang-orang bersenjata yang berada di bawah kelompok Abu Sayyaf cabang pimpinan Alhasby Misaya," kata Tejares, seperti dilansir dari Zamboanga Today, Kamis (31/3).

abu sayyaf

Dokumentasi militan Abu Sayyaf (c) 2016 jihadintel.meforum.org

Sedangkan informasi intelijen belum terverifikasi menduga 10 WNI itu sekarang disekap di dekat kediaman Junior Lahab. Junior ini punya julukan Jim Dragon, dikenal sebagai pemimimpin senior Abu Sayyaf. Rumah Lahab ada di kawasan Punjungan, Kalingan Caluang, Kepulauan Sulu.

Kelompok ini dikenal sebagai kelompok yang sering menculik orang untuk mendapatkan uang. Kelompok Abu Sayyaf cabang Misaya ini pernah terlibat pemenggalan terhadap satu warga asing asal Malaysia Bernard Ted Fen di Bud Taran Indanan. Kala itu negosiasi yang dilakukan gagal.

Militer Filipina masih terus melakukan pencarian posisi tepat para ABK asal Indonesia itu. Militer dan Kementerian Luar Negeri Filipina mengatakan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno L.P Marsudi pagi tadi mengatakan pihaknya terus berkoordinasi mengenai setiap perkembangan upaya pembebasan para WNI dengan Menlu Filipina. "Komunikasi terakhir saya dengan Menlu Filipina adalah hari ini, pukul 8.13 WIB," tutur Retno di kantornya, Kamis (31/3).

Sejak info pertama adanya WNI jadi korban penculikan kelompok garis keras Filipina Abu Sayyaf, Menlu Retno menegaskan prioritas utama pemerintah Indonesia adalah keselamatan para awak kapal. Indonesia menyerahkan sepenuhnya upaya pembebasan ini kepada militer Filipina.

(mdk/ard)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP