Takut dicap rasis, polisi Inggris malas menangani kasus SARA
Merdeka.com - Polisi Inggris Utara gagal menangani kriminalitas yang dilakukan oleh etnis minoritas karena mereka takut mendapat cap rasis.
Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Senin (6/8), hal itu didasari adanya surat selebaran dari civitas Think-Tank yang dikeluarkan hari ini.
Selebaran menyebutkan peningkatan isu rasis menjadi salah satu penyebab kegagalan polisi untuk menyelidiki pertumbuhan kelompok jalanan dari ras Asia di Inggris Utara.
Akademis Jon Gower Davies, menyebutkan polisi sudah dicap sebagai institusi paling rasis sejak adanya kasus kematian Stephen Lawrence, seorang remaja kulit hitam Inggris. Dia dibunuh tanpa sebab saat menunggu bus di Kota Eltham, sebelah Tenggara Kota London. Selentingan merebak dan pemuda itu dibunuh hanya karena warna kulit.
Tim khusus mengusut pembunuhan Lawrence dikepalai oleh William Macpherson. Laporan Macpherson menjadi catatan sejarah kelam pengadilan di Inggris Raya dan kasus ini dibekukan lantaran polisi terbelenggu oleh birokrasi.
Tahun ini, kelompok dari Kota Rochdale diperiksa karena memaksa beberapa gadis remaja untuk minum alkohol kemudian memperkosa mereka. Hampir seluruh pelakunya keturunan Pakistan, hanya satu kulit putih. Aksi mereka diketahui setelah seorang korban berusia 15 tahun mengadu ke pihak berwajib. Penyelidikan kasus ini urung lantaran polisi sangat takut disebut rasis.
Pada 2009, memperingati 10 tahun laporan Macpherson, Ketua Pengawas Kesetaraan Negara Trevor Philips, menyatakan polisi Inggris telah mengenakan lencana menyedihkan tergantung di saku mereka. Lencana ini mengarah pada tindakan mereka yang kerap tak mampu mengurai tindakan kejahatan atas nama ras. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya