Sudah 2 kali, Australia tak jera bikin RI setop kerja sama militer
Merdeka.com - Indonesia kembali menghentikan kerja sama militer dengan Australia setelah muncul kasus penghinaan terhadap Pancasila di markas pasukan khusus mereka di Kota Perth.
Stasiun televisi ABC di Australia sudah mendapat konfirmasi bahwa seorang instruktur dari TNI yang tengah melatih militer Negeri Kanguru merasa ada materi yang terpampang di markas militer Australia di Perth yang menghina Pancasila.
Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Wuryanto kemarin menyatakan seluruh kerja sama militer dengan Australia dihentikan untuk sementara. Mabes TNI menegaskan seluruh kerja sama akan dikaji kembali sebelum TNI bersedia membuka kembali hubungan dengan Australia.
"Bukan hanya latihan militer, tetapi seluruh kerja sama dengan Australia," kata Kapuspen TNI Mayjen Wuryanto saat dihubungi merdeka.com, Rabu (4/1).

Latihan Bersama Kopassus dan SASR ©2016 handout/Pen Kopassus
Kepala Angkatan Udara Australia Marsekal Mark Binskin sudah melayangkan surat kepada Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengenai kasus ini pada 23 November lalu.
Seorang diplomat yang mengetahui kasus ini menyatakan Binskin sudah memastikan materi yang menghina Pancasila di Perth itu tidak menggambarkan seluruh pandangan militer Australia terhadap Indonesia, seperti dilansir ABC News, Rabu (4/1). Peristiwa itu menurutnya hanya insidental saja.
Panglima militer Australia Letnan Jenderal Angus Campbell juga sudah menulis kepada Jenderal Gatot pada 24 November lalu. Dalam suratnya dia mengatakan Australia tidak mendukung materi yang menghina Pancasila itu.
Dalam pernyataannya Menteri Pertahanan Payne menjelaskan, pihaknya sangat mencermati kasus ini dan penyelidikan atas hal ini sudah akan rampung.
"Australia berkomitmen membangun hubungan pertahanan yang kuat dengan Indonesia, termasuk latihan kerja sama militer," ujar Payne.
Peristiwa penghentian kerja sama militer ini adalah kali kedua yang dilakukan Indonesia terhadap Australia.
Kejadian pertama terjadi saat muncul kasus penyadapan telepon oleh intelijen Australia terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah pejabat Indonesia lainnya pada 2013 silam.
Kala itu Presiden SBY mengambil langkah tegas dengan menghentikan kerja sama di bidang militer.
"Saya juga minta dihentikan dulu, latihan-latihan bersama antara tentara Indonesia dan Australia, baik Angkatan Darat, Angkatan Laut, maupun Angkatan Udara, maupun latihan yang sifatnya gabungan," kata SBY dalam konferensi pers November 2013.
SBY juga menjelaskan, beberapa agenda kerja sama lain yang juga akan dikaji ulang adalah kerja sama pertukaran informasi dan intelijen antara kedua negara, dan penanganan kasus penyelundupan orang.
Namun rupanya PM Tony Abbot tidak juga menyampaikan permintaan maaf terkait penyadapan tersebut.
Panglima TNI kala itu Jenderal Moeldoko pun merespons keputusan pemerintah. Rangkaian pelatihan yang seharusnya berakhir 24 November dihentikan beberapa hari lebih cepat. Para pilot juga dipastikan kembali ke Tanah Air sebelum tanggal itu.

Panglima TNI jumpa pers soal penyadapan ©2013 Merdeka.com/M. Luthfi Rahman
"Sekarang ini kita sedang menghentikan latihan yang sedang berjalan di Australia ya. Ada pelatihan Australia-Indonesia sekarang. Harusnya sampai tanggal 24, saya hentikan sekarang dan besok harus kembali. Ada enam pesawat di sana, mereka kembali," ujar Moeldoko di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (20/11/2013).
Tak hanya latihan bersama di Australia, latihan yang berlangsung di Lembang, Jawa Barat dengan Kopassus juga dihentikan. Termasuk patroli bersama di wilayah selatan Pulau Jawa.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya