Sosok Omar Mateen, benci homoseksual dan suka pukuli istri
Merdeka.com - Pelaku penembakan massal di Kota Orlando, Amerika Serikat, telah diidentifikasi polisi. Dia bernama Omar Mir Seddique Mateen. Lelaki 29 tahun itu adalah anak pasangan imigran asal Afghanistan.
Mateen adalah warga negara AS yang sehari-hari tinggal di Kota Fort Pierce, Negara Bagian Florida. Biro Investigasi Federal (FBI) memperoleh informasi bahwa lelaki berstatus duda ini telah berbaiat pada Negara Islam Irak dan Syam (ISIS).
Sumpah setia pada khilafah itu disampaikan pelaku saat menelepon saluran darurat 911 persis sebelum masuk ke dalam kelab malam 'Pulse' dan menembaki para pengunjung.
Latar belakang Mateen kini sedang diteliti oleh FBI. Lembaga itu pernah memeriksa Mateen atas kemungkinan bergabung dengan organisasi teror pada 2013. Saat itu penyidik tak menemukan bukti apapun yang memberatkan, sehingga Mateen kemudian dilepas.
Mateen menyasar klab malam 'Pulse' yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya komunitas homoseksual di Orlando. Media lokal AS menyebut Mateen memiliki pandangan anti-gay sejak lama.
Hal itu disampaikan sang ayah, Mir Seddique, yang mengaku sangat terpukul anaknya terlibat dalam penembakan massal terparah sepanjang sejarah AS.
"Saya baru sadar dia membenci gay saat kami tanpa sengaja melewati dua pria berciuman di tepi pantai Miami. Saat itu (Mateen) terlihat sangat marah," kata Seddique seperti dilaporkan AFP, Senin (13/6).
Mateen pernah menikah pada 2009. Tiga tahun berikutnya sang istri menceraikannya. Ketika diwawancarai terpisah oleh Washington Post, mantan istri Mateen menyatakan sering dipukuli.
"Dia sering pulang kerja, kemudian memukuli saya saat tahu cucian belum kering atau karena sebab-sebab remeh lainnya," ujarnya.
Seingat mantan istrnya, Mateen dulu tak terlalu fanatik pada agama. Sehari-hari pria 29 tahun itu bekerja sebagai satpam.
Pengakuan serupa juga diberikan Imam Masjid Jami Fort Piece, Shafiq Rahman. Sang imam mengaku tahu sosok Mateen, tapi lelaki itu kurang aktif di masjid.
"Tidak ada tanda-tanda dia orang yang bisa melakukan kekerasan," kata Rahman.
Selama ini Mateen tak memiliki catatan kriminal. Dia membeli senjata api untuk beraksi menyerbu kelab malam lewat jalur resmi. Sejak 2011, Mateen memiliki izin menggunakan senjata api.
Setelah tiga jam penyanderaan pada Minggu dini hari, Mateen ditembak mati tim SWAT yang menyerbu masuk klub malam menjelang subuh. Korban tewas mencapai 50 orang, sedangkan 53 lainnya luka-luka.
(mdk/ard)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya