Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Shabra-Shatilla: Kisah tembok berlubang di panti Abu Yassir

Shabra-Shatilla: Kisah tembok berlubang di panti Abu Yassir Monumen Sabra-Shatilla di Ibu Kota Beirut, Libanon. (www.wikipedia.com)

Merdeka.com - Tragedi 30 tahun lalu selalu teringat dalam memori wanita Arab paruh baya itu. Zeina masih ingat saat suami dan dua putri mereka, Maya (8 tahun) dan Sirham (9 tahun) pergi hendak membeli makanan. "Mereka pergi untuk mencari makanan. Sampai saat ini saya tetap berdoa sambil berharap mereka kembali," kata Zeina. Dia masih tidak yakin telah kehilangan anggota keluarganya.

Zeina adalah salah satu korban yang kehilangan anggota keluarga akibat pembantaian kamp pengungsian orang-orang Palestina, Sabra-Shatilla, terletak di Ibu Kota Beirut, Libanon, oleh Milisi Kristen Phalangist dibantu Badan Intelijen Luar Negeri Israel, Mossad. Dia tidak pernah menyangka saat itu menjadi malam terakhir perjumpaannya dengan anak-anak dan suaminya.

Zeina tinggal di panti Abu Yassir yang terletak di dalam kamp penampungan Shatilla. Lubang-lubang bekas tembakan peluru milisi Phalangist terlihat jelas. Jika berjalan di sekeliling tempat tinggal para pengungsi Palestina terbayang jerit kesakitan orang-orang yang dibunuh tanpa tahu apa salah mereka. Anak-anak  dihabisi tanpa ampun.

Peristiwa keji itu terjadi pada 16 sampai 18 September 1982. Kepala intelijen Libanon, Elie Hobeika, bertugas merekrut para desersi militer buat dijadikan regu pembunuh. Tidak lama setelah peristiwa itu terjadi, keluarga dan tunangan Hobeika dibunuh oleh milisi Palestina.

Pembantaian itu terjadi di tengah-tengah Perang Libanon-Israel. Di bawah komando mantan Menteri Pertahanan Ariel Sharon, pasukan Negeri Zionis membombardir kamp Sabra sehari sebelum pembantaian.

Israel tidak terlibat langsung. Mereka hanya menurunkan beberapa agen Mossad dan melatih para milisi Kristen buat membantai pengungsi Palestina. "Kami menggunakan senjata api dengan peredam supaya kami dapat membunuhi mereka tanpa menyebabkan kepanikan," kata Dani Chamoun, pemimpin milisi Macan Kebebasan, salah satu kelompok pembantai selain brigade Phalangist.

Menurut para pengungsi yang selamat, sebelum pembantaian terjadi, terlihat beberapa kendaraan yang seakan ditumpangi para relawan kemanusiaan. Padahal mereka adalah agen Mossad. Sambil berjalan, mereka menandai tiap rumah dengan cat semprot sebagai tanda sasaran. Para pengungsi tidak menaruh curiga, sampai malam tiba. Saat itulah mereka mulai mengadakan pembantaian terencana.

Munir Muhammad, salah satu korban selamat, mengatakan dia harus tidur di samping jenazah semalaman dan menahan sakit akibat terkena tembakan. Menurut dia, setelah dia ditembak, para pembunuh itu sempat berkata, "Kalau kamu sakit atau terluka bilang saja, kami akan membawa kamu ke rumah sakit." Beberapa orang meminta tolong dan hasilnya mereka langsung ditembak di kepala. Maka dari itu demi bertahan hidup, dia menahan sakit dan bermalam di samping mayat.

Sampai sekarang, mereka yang selamat dari pembantaian itu selalu teringat akan tembok penuh lubang. Dia adalah saksi bisu saat para pengungsi meregang nyawa dihujani peluru. (mdk/fas)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP