Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Setengah hati menjegal ambisi Israel

Setengah hati menjegal ambisi Israel Pemandangan Kota Yerusalem dari puncak Bukit Golgota. Foto diambil pada 25 Maret 2010. (c) Ammar Awad/Reuters

Merdeka.com - Hari ini 45 tahun lalu, Israel mencaplok wilayah Yerusalem Timur selepas Perang Enam Hari melawan koalisi negara-negara Arab. Pendudukan sepihak itu beberapa tahun kemudian disusul penetapan kota suci itu sebagai ibu kota Negeri Zionis ini.

Rory McCarthy dari harian the Guardian (07/03/2009) menurunkan kronologi upaya Israel mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota abadi mereka.

Tidak lama sehabis menduduki Tepi Barat pada 1967, Pemerintahan Zionis hanya menyisakan tempat ibadah bagi penganut Islam dan Kristen, seperti tanah waqaf Masjidil Aqsa, sebagai wilayah netral. Sisanya menjadi wilayah administratif mereka.

Nasib paling sial dialami warga Arab pemukim di Yerusalem Timur. Mereka diusir karena dibangun pemukiman bagi pendatang Yahudi dari seluruh dunia.

Pendudukan dan pengusiran ratusan ribu warga sipil ini dikecam seluruh dunia dan dianggap sebagai penjajahan yang melanggar statuta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Namun sekutu utama Israel yaitu Inggris dan Amerika Serikat mendukung tindakan itu di forum-forum resmi internasional. Status Negeri Zionis itu sebagai pemenang perang lawan negara tetangganya juga membuat Dunia Arab tidak mampu berbuat banyak.

Puncak ambisi Israel menguasai Yerusalem terjadi pada 1980, ketika parlemen (Knesset) mengumumkan undang-undang menyatakan seluruh wilayah Yerusalem merupakan ibu kota sepanjang masa bagi bangsa Yahudi. Sontak, keputusan politik itu dikecam pelbagai negara.

Sidan Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi nomor 478 memerintahkan setiap negara tidak mengakui klaim ibu kota itu. Bagi dunia Barat, Yerusalem sepatutnya menjadi kota tanpa tuan bagi segala bangsa, mengikuti rencana perjanjian internasional 1947.

 

Masalah makin runyam karena pegiat Palestina merasa Yerusalem juga sah menjadi ibu kota mereka. Saling klaim pun terjadi, namun Israel di atas angin karena tidak ada satu tindakan pun menghalangi niat mereka. Bahkan setiap hari pemukiman Yahudi dibangun di sekitar kota rebutan ini dengan mencaplok tanah kosong yang dahulu dihuni warga Arab.

Kini pusat pemerintahan dan gedung parlemen kadung dipindah ke Yerusalem. Perlawanan dunia internasional sejauh ini hanya menolak membangun kedutaan besar di kota suci tiga agama itu.

Selebihnya, anggota PBB hanya diam. Amerika Serikat sebagai sekutu di masa Presiden Bill Clinton juga bersikap ambigu. Di satu sisi mereka mengakui hak Israel mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota. Di sisi lain, Negeri Paman sam ini mengecam perluasan pemukiman yang sudah melebihi batas Tepi Barat.

Akibat setengah hati menjegal ambisi Israel, warga dunia hanya bisa diam melihat Otoritas Palestina yang berdiri pada 1994 diisolasi hanya di wilayah Jalur Gaza. (mdk/fas)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP