Serangan AS tewaskan banyak warga sipil, jauh di atas Rusia
Merdeka.com - Pelbagai serangan udara yang dilakukan pasukan koalisi di bawah kepemimpinan Amerika Serikat (AS) terhadap Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ternyata lebih banyak mengorbankan warga sipil, bahkan melebihi Rusia dalam kampanye pemboman yang mereka lakukan.
Pesawat tempur koalisi telah meningkatkan serangan di Mosul dan Raqqa secara bersamaan, sementara Rusia memilih menahan diri setelah ikut dalam gencatan senjata dimulai Desember lalu.
"Sementara Rusia telah membunuh banyak korban dibandingkan pasukan koalisi, namun warga sipil yang terbunuh kini lebih sedikit dibandingkan sekutu," demikian hasil penelitian kelompok pemantau Airwars, seperti dilansir The Telegraph, Kamis (23/2).

Airwars memperkirakan antara 254 sampai 369 warga sipil terbunuh oleh pasukan koalisi di Irak dan Suriah selama Januari. Jumlah itu meningkat dua kali lipat dibandingkan bulan Desember, di mana antara 134 sampai 187 warga sipil ditemukan tewas.
Sebagian besar dilaporkan terbunuh dalam serangan koalisi di Mosul, saat jet tempur membombardir kota tersebut untuk mendukung pergerakan pasukan pemerintah Irak mengambil alih kota kedua terbesar dari tangan ISIS. Salah satu insiden paling tragis terjadi pada 3 Januari lalu, di mana 11 anggota keluarga tewas dalam serangan udara di timur Mosul.
Sedangkan angka warga sipil yang terbunuh akibat pemboman yang dilakukan Rusia di Suriah sejak gencatan senjata dimulai turun drastis. Dalam laporan pendahuluan mengindikasikan Rusia membunuh sekitar 138 sampai 248 warga sipil di bulan Januari.
"Untuk kali pertama, serangan yang dipimpin AS menunjukkan non-kombatan banyak terbunuh dibanding Rusia yang dikenal brutal dalam serangan udara mereka. Kini polanya terbalik, saat ini koalisi banyak membunuh dibanding Rusia," tulis Airwars dalam laporannya.
Airwars memperingatkan semakin intensifnya peperangan di Mosul, di mana Donald Trump bakal lebih longgar dalam mengerahkan militernya, yang berarti 'membuat situasi akan jauh lebih buruk'.
Pasukan koalisi sendiri diketahui telah membunuh 199 warga sipil sejak kampanye penyerbuan dimulai sejak 2014 lalu. Airwars memperkirakan angka aktualnya antara 2.405 sampai 3.517.
Sementara Rusia tidak pernah mengungkap berapa banyak warga sipil yang terbunuh dalam serangan mereka, jumlah pastinya pun sulit dilacak. Namun Airwars meyakini jumlahnya antara 8.033 sampai 10.554 yang dilaporkan terbunuh, tiga kali lebih banyak dibandingkan pasukan koalisi.
"Kami meminta maaf atas hilangnya nyawa warga sipil dari serangan koalisi untuk mengalahkan ISIS di Irak dan Suriah dan kami memberikan simpati mendalam atas keluarga dan lainnya akibat dari serangan ini," demikian keterangan yang diterbitkan pasukan koalisi.
Terpisah, Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan, "Kami yakin Inggris tidak bertanggungjawab atas timbulnya korban dari warga sipil."
AS sendiri menerjunkan dua per tiga dari total serangan koalisi di kedua negara tersebut, sedangkan sisanya diambil Inggris, Prancis dan lima negara anggota koalisi lainnya. Inggris dilaporkan melakukan 24 serangan udara di Irak dan Suriah selama Januari, sedangkan Prancis 32 dan sisanya 641 serangan dilakukan AS.
(mdk/tyo)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya