Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sempat galau, pasien pilih sendiri hari kematian akhirnya tewas

Sempat galau, pasien pilih sendiri hari kematian akhirnya tewas peserta mati terhormat asal AS karena mengidap kanker otak, Brittany Maynard. ©NBCNews

Merdeka.com - Britanny Maynard, warga Amerika Serikat yang mengikuti program 'mati terhormat' alias euthanasia atas pilihannya sendiri, dikabarkan tewas akhir pekan lalu. Sebelumnya, dia sempat berpikir untuk membatalkan rencana bunuh diri dengan bantuan medis tersebut.

Kepastian meninggalnya Maynard disampaikan sang suami, Daniel Diaz. Dia menyampaikan kabar itu di laman Facebook-nya. "Istriku sudah memilih mati terhormati di rumahnya di Portland," tulisnya seperti dilansir the New York Times, Selasa (4/11).

Adapun, surat keterangan dari Negara Bagian Oregon tidak menyebut perempuan 29 tahun itu meninggal bunuh diri. "Dia disebut meninggal karena kanker otak," kata Diaz.

Britannya sejak lama mengumumkan ingin mati 1 November 2014. Itu adalah sehari setelah ulang tahun suaminya.

Adapun, dia sempat dikabarkan galau, dan memikirkan opsi untuk mati di hari lain. "Saya masih merasa baik-baik saja dan masih ingin berbagi kebahagiaan bersama keluarga dan teman-teman," kata Maynard, seperti dilansir situs Asia One, Jumat (31/10).

Pilihan mati terhormat ini diambil Maynard pertengahan tahun ini, setelah dia divonis dokter hanya dapat hidup maksimal hingga enam bulan akibat kanker otak stadium IV. Video yang dia buat tentang keputusannya ingin bunuh diri dengan cara terhormat itu menyebar di Internet dan mendapat banyak perhatian pengguna dunia maya.

Banyak orang memintanya tidak mengikuti program tersebut, termasuk seorang penderita kanker yang kasusnya mirip. Tapi Maynard bergeming.

Atas persetujuan keluarga dan suami, wanita itu pindah menjadi warga Negara Bagian Oregon. Di sana, DPRD setempat sudah meloloskan peraturan daerah mengatur pelaksanaan 'mati terhormat'.

Prinsipnya, atas persetujuan pasien, dokter menyediakan obat-obatan yang mempercepat dan mempertegas kematiannya. Tapi, karena ada intervensi medis, maka pasien seminimal mungkin merasakan sakit.

Tak mudah buat Maynard mendapatkan bantuan negara buat mati terhormat. Selain mengurus KTP baru di Oregon, dia harus dipastikan waras secara mental. Sang suami, Dan Diaz, juga harus mencari tempat tinggal baru, menguruskan kartu pemilihan serta SIM anyar buat istrinya yang sebentar lagi meninggal.

"Tidak ada dorongan bunuh diri. Saya ingin sembuh, tapi sayangnya itu sudah tidak mungkin sekarang. Kenapa orang mengecam saya, padahal mereka tidak merasakan bagaimana saya dihantui ketakutan baik fisik maupun emosional? Kini saya justru merasa lebih tenang karena ada pilihan lain bagi hidup saya," urai Maynard. (mdk/ard)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP