Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sekjen PBB: Biarkan warga kelaparan, Suriah lakukan kejahatan perang

Sekjen PBB: Biarkan warga kelaparan, Suriah lakukan kejahatan perang Bantuan pangan untuk Kota Madaya Suriah. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Bencana kelaparan menimpa beberapa kota basis pemberontak Suriah. Salah satu yang mengalami krisis pangan paling parah adalah Kota Madaya, jaraknya 25 kilometer dari Ibu Kota Damaskus, Suriah. Ratusan orang sudah kekurangan panganselama enam bulan terakhir karena akses darat menuju kota diblokade tentara loyalis Presiden Basyar al-Assad.

Mulai akhir pekan lalu, bantuan kemanusiaan internasional akhirnya bisa masuk membawa puluhan ton gandum, beras, garam, minyak goreng, gula, dan susu formula. Pemberian bantuan ini berkat lobi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kepada pemerintah Suriah untuk melonggarkan blokade. Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris juga gencar melobi semua pihak agar bantuan bagi warga Madaya bisa dikirim.

Kendati rombongan truk bantuan kini diizinkan masuk, Sekjen PBB Ban Ki-moon tetap mengecam tindakan pemerintah Suriah. Dia menilai blokade militer Suriah atas perintah Presiden Basyar al-Assad bisa masuk kategori kejahatan perang.

"Biar kami perjelas, kelaparan digunakan sebagai senjata merupakan kejahatan perang," tegasnya, seperti dikutip dari Stasiun Televisi Aljazeera, Kamis (14/1).

Konvoi bantuan suah dua kali masuk ke kawasan Madaya selama sepekan ini. PBB berjanji akan menyelidiki apakah blokade pemerintah Suriah memang bertujuan menyiksa warga sipil supaya kelaparan. Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Zeid Ra'ad Al Hussein, mengatakan pihaknya bisa menjatuhkan sanksi kepada pihak yang sengaja memicu bencana kelaparan.

Berdasarkan data Kelompok Peninjau Hak Asasi Suriah, sedikitnya 23 orang, termasuk anak-anak, meninggal di Madaya akibat kelaparan akut. Seorang warga bernama Abu Abdul Rahman mengaku sudah tidak makan selama berhari-hari. Dia menyatakan sebagian warga nekat memakan daun dan rumput karena sangat kelaparan.

"Sudah tak ada lagi anjing dan kucing di kota ini. Bahkan daun-daunan yang selama ini kami makan dari pepohonan sudah makin sedikit," ujar Rahman.

Sedikitnya 300 anak-anak di kota itu juga mengalami kekurangan gizi. Pegiat lokal menuturkan sekitar 40 ribu warga di Madaya sulit mendapat akses makanan dan obat-obatan.

(mdk/ard)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP