Sejarah berulang di Ferguson, kebencian tak mati-mati
Merdeka.com - Sejarah berulang. Pertama sebagai tragedi, kemudian sebagai banyolan
--Karl Marx
Orang mestinya tak perlu kaget dengan keputusan para juri di Kota Ferguson, Negara Bagian Missouri, Amerika Serikat, Senin malam lalu.
Polisi berkulit putih Darren Wilson akhirnya dibebaskan dari segala tuduhan setelah dia menembak mati seorang remaja kulit hitam bernama Michael Brown pada 9 Agustus lalu.
Keputusan itu sontak memicu unjuk rasa besar-besaran di seantero Amerika, terutama oleh warga kulit hitam. Kerusuhan melanda, penjarahan merajalela.
Di Ferguson, kehidupan hanya boleh punya dua warna: kulit hitam atau kulit putih.
Dalam survei bikinan YouGov.com bekerja sama dengan situs HUffington Post yang dirilis dua hari lalu, sebanyak 64 persen responden berkulit hitam menyatakan Wilson bersalah karena membunuh Brown dan harus dihukum. Hanya 22 persen warga kulit putih mengatakan Wilson bersalah, seperti dilansir madison.com, Rabu (26/11).
Dari jajak pendapat itu juga diketahui, 76 persen responden kulit hitam menilai penembakan Brown itu adalah bagian dari cara polisi memperlakukan orang kulit hitam dengan tidak adil. Sedangkan hanya 35 persen orang kulit putih mengatakan demikian.
Menurut survei dari Lembaga Pusat Riset Pew, sebanyak 80 persen responden kulit hitam mengatakan kasus ini menunjukkan betapa pentingnya isu rasial di Amerika. Sedangkan hanya 35 persen orang kulit putih menyatakan demikian.
Sisi kelam lain yang memperlihatkan ketimpangan antara kulit putih dan kulit hitam di Amerika terjadi dalam sejumlah sektor kehidupan. Ketimpangan itu bisa menimbulkan kecemburuan sosial hingga menyebabkan kerusuhan dan kriminalitas, seperti yang terjadi di Ferguson.
Pada survei 2012 oleh Institut Riset Agama Publik menyatakan warga kulit hitam sekitar 20 persen lebih sulit dalam mendapatkan hidup layak ketimbang orang kulit putih. Termasuk dalam hal mendapat lapangan pekerjaan atau sekolah yang baik.
Tingkat pengangguran orang kulit hitam dewasa berada pada angka 10,7 persen pada Oktober lalu, atau hampir dua kali lipat dari rata-rata nasional.
Sejumlah kalangan juga menilai, keputusan pengadilan di Ferguson itu menunjukkan masih bersemayamnya isu rasial dalam sistem peradilan di Amerika.
Rasisme dalam wujud institusi itu selalu berulang dalam setiap kasus sejenis, meski waktu kejadiannya berjarak hampir enam dekade lalu.
Sejarah mencatat kasus perempuan kulit hitam bernama Rosa Parks saat dilarang duduk di kursi orang kulit putih di dalam sebuah bus di Montgomery pada 1955, memicu gelombang unjuk rasa dan gerakan memperjuangkan hak-hak sipil dan kesetaraan antara kulit hitam dan kulit putih.
Amerika punya sejarah panjang kebencian kulit putih terhadap kulit hitam.
(mdk/fas)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya