Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sejak kapan Megawati akrab dengan Korut, bisa jadi juru damai?

Sejak kapan Megawati akrab dengan Korut, bisa jadi juru damai? Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri beri kuliah umum di Lemhanas. ©2015 merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, mempunyai kedekatan emosional tersendiri dengan dua bangsa Korea. Baik dengan Korea Utara yang tertutup serta berpaham nasionalis, maupun terhadap Korea Selatan, negara demokrasi yang sekarang menapak jalan menjadi raksasa ekonomi dunia baru.

Megawati akhir pekan lalu melawat ke tiga kota di Korsel. Salah satu agendanya kemarin adalah menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Korean Maritime and Ocean University di Busan.

Dalam pidato penganugerahan gelar doktor, Megawati menyinggung status dua bangsa di Semenanjung Korea yang sampai sekarang tak kunjung akur selepas Perang Saudara 1950-1953. Dia menyerukan agar Korut-Korsel serius menjajaki penyatuan kembali (reunifikasi), seperti ditempuh Jerman.

"Sejarah panjang hubungan Indonesia dan Korea Utara, Indonesia dan Korea Selatan, akan mampu menjadi jembatan yang positif untuk menyatukan dua korea," kata Megawati Kemarin (19/10) di Beijing setelah meninggalkan Korsel.

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu menuturkan kesiapannya memfasilitasi perdamaian dua negara itu.

"Jika tugas memanggil, maka saya siap untuk melayani sebagai jembatan membuka jalan bagi solusi damai untuk konflik Korea yang telah berjalan cukup lama."

korut vs korsel

Apa saja memang modal Megawati sehingga merasa bisa mendamaikan dua negara bersitegang itu?

Rupanya, putri Presiden Soekarno ini tercatat empat kali melawat ke Korea Utara. Sambutan terhadap dirinya pun cukup hangat di negeri tertutup itu.

Ini semua berkat persahabatan Bung Karno dan Presiden Sepanjang Masa Korut, Kim Il-sung. Kim melawat ke Indonesia pada 13 April 1965. Kunjungan itu membekas, karena Bung Karno menghadiahkan satu varian anggrek lokal di Kebun Raya Bogor, dengan nama 'Kimilsungia'.

Merasa tersanjung, Kim mengundang Bung Karno ke Pyongyang. Megawati yang masih remaja saat itu mengikuti rombongan ayahnya. Dalam lawatan tersebut, Mega bertemu Kim Jong-il, putra Kim Il-sung.

Lawatan kedua dihelat saat Megawati sudah menjabat Presiden pada 28 Maret 2008. Mega ingin menapaktilasi kunjungan ayahnya ke negara-negara mitra, termasuk Korut.

megawati di korsel

Dikutip dari buku 'Persahabatan Sepanjang Musim' yang diterbitkan Kementerian Pariwisata (2010), kehadiran Megawati di Bandar Udara Sunan, Pyongyang yang perdana sebagai presiden, disambut hangat warga Korea Utara. Ribuan penduduk Pyongyang dikerahkan pemerintahnya menuju bandara meneriakkan yel-yel "Hidup Megawati"

Terdapat spanduk 'Hidup Persatuan dan Persahabatan Korea dan Indonesia'. Dalam lawatan sebagai presiden itu, Megawati didampingi Menlu Hassan Wirajuda dan Menristek Hatta Rajasa, serta mendiang suaminya Taufiq Kiemas. Di bandara itu, megawati langsung disambut oleh Ketua Presidium Majelis Rakyat Kim Yong Nam.

Sekaligus dalam lawatan tersebut Megawati menggelar reuni dengan Marsekal Kim Jong-il, saat itu (mdk/ard)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP