Sebelum EgyptAir, ada 2 insiden pembajakan pesawat bermotif asmara
Merdeka.com - Pembajakan EgyptAir MS181 pada Selasa (29/3) berakhir bahagia, setidaknya bagi banyak orang. Setelah rute berbelok dari seharusnya Alexandria-Kairo, tiba-tiba sampai ke Bandara Larnaca, Siprus, disusul drama penyanderaan bertahap nyaris lebih dari 7 jam, sang pembajak bersedia menyerahkan diri tanpa ada pertumpahan darah.
Seluruh penumpang dan kru sehat wal afiat. Kepolisian Antiteror Siprus, stelah menyisir seisi pesawat serta memeriksa tersangka Seif Eldin Mustafa, memastikan tak ada bahan peledak. Ancaman Mustafa pada pilot serta kru bahwa dia mengenakan sabuk bom bohong belaka.
BBC melaporkan, Rabu (30/3), pepesan kosong pria 40-an tahun itu semakin mengerucutkan dugaan aparat bahwa motifnya berbuat nekat benar-benar didasari oleh cinta. Mustafa hanya memiliki satu tuntutan pada aparat, agar dipertemukan dengan mantan istrinya yang kini tinggal di Desa Oroklini, tak jauh dari Bandara Larnaca.
Pejabat keamanan Siprus mengatakan hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa Mustafa mengidap kelainan jiwa. Sedangkan Presiden Siprus, Nicos Anastasiades, setengah berkelakar mengakui orang yang membuat panik negaranya itu berbuat demikian dipengaruhi cinta. "Selalu ada wanita dalam kegilaan seorang pria," kata Anastasiades. Tak kurang, pemerintah Mesir menyebut Mustafa bukan bagian dari jaringan teroris manapun, melainkan "orang idiot."

Pembebasan sandera EgyptAir di Siprus (c) Reuters/Yiannis Kourtoglou
Uniknya, Brendan I. Koerner, penulis isu penerbangan asal Amerika Serikat, menyatakan bukan kali ini saja terjadi pembajakan pesawat dipicu motif cinta.
Pembajakan sejenis paling terkenal adalah upaya Richard Obergfell, seorang pengangguran asal New York, membajak pesawat komersial menuju Chicago pada 1971. Tujuan pembajakan itu sangat nyeleneh. Obergfell ingin menemui sahabat penanya di Italia. Obergfell terobsesi pada sahabat pena perempuan itu, sampai rela menghabiskan uang kursus bahasa Italia serta berusaha mendapat pekerjaan di Negeri Pizza.
Karena semua upaya sebelumnya buntu, dia lalu gelap mata membajak pesawat Boeing 727 berbekal pistol curian. Nahas, pilot bilang bahan bakar tidak cukup. Akhirnya Obergfell sepakat diturunkan di New York lagi untuk ganti membajak pesawat lain menuju Italia. Di Bandara JFK itulah, (mdk/ard)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya