Saudi tak henti jadi ladang penyiksaan TKI
Merdeka.com - Kerajaan Arab Saudi berulang kali menorehkan luka dan trauma seumur hayat bagi Tenaga Kerja Indonesia. Paling baru, pekerja perempuan asal Karawang, Jawa Barat, bernama Hayanti B. Mujiono Minarjo cacat permanen akibat rutin disiksa majikannya selama tujuh tahun terakhir.
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Ibu Kota Riyadh mengaku akan segera memulangkan wanita yang sempat dibuang di Masjidil Haram, Makkah, itu. Setelah pemerintah melaporkan sang majikan ke polisi Hayanti mendapat ganti rugi 300.000 riyal, atau setara Rp 976 juta, merujuk keterangan tertulis Sekretaris III Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Riyadh Chairil Siregar, Kamis (16/10).
Walau memperoleh ganti rugi, korban saat ini menderita cedera parah, dengan wajar rusak dan sebagian besar kulit luar mengalami luka. Penyiksaan itu dilakukan sang majikan bernama Jazaâa Awadh Al Muthairy, di kediamannya, Qoisumah.
Selama bekerja untuk keluarga pria 60 tahun itu, Hayanti hampir tiap hari dipukul. Aksi keji sang majikan termasuk memaksanya meminum cairan pembersih lantai. Alat vital wanita malang itu juga dikabarkan mengalami cacat permanen.
Data Migrant Care pada 2010, menyatakan 1.047 TKI bekerja di Saudi disiksa majikan. Sedangkan pada 2014, kasus serupa yang menimpa Hayanti, dialami tiga TKI asal Sukabumi, Jabar. Mereka baru bekerja 16 bulan di Negeri Petro Dollar itu. Tapi saban hari mereka disiksa. Ketika kondisi sudah parah, mereka dibuang sang majikan di kawasan pegunungan sekitar Makkah.
Daftar ini akan semakin panjang, bila dimasukkan penyiksaan Sumiyati pada 2010. Atau Komalasari, TKI tewas di Saudi di tahun yang sama, lantaran tak tahan menanggung derita fisik.
Hasil analisis peneliti Lembaga Studi Islam dan Kebudayaan Fahrurozy, banyaknya fenomena TKI disiksa karena pengaruh budaya Arab. "Sebagian kultur masyarakat Arab memandang TKW sebagai budak, Secara sosiologis, orang Arab sejak era kekhalifahan sampai saat ini, masih banyak yang menganut mode perbudakan itu," ujarnya.
Adapun, agen penyalur TKI Humari Hidayat lewat blog pribadi menolak persepsi tersebut. Masalah utama mengapa banyak penyiksaan di Arab Saudi adalah perkara jumlah pekerja asal Indonesia yang bejibun.
Lebih dari 1,5 juta warga Indonesia mencari nafkah di sana sebagai pembantu rumah tangga. Tapi dia mengakui, ketika muncul penyiksaan, itu dipengaruhi latar pendidikan sang majikan. "Sebagian besar majikan di Arab berpendidikan rendah. Hanya kaya raya. Kebayang kan orang punya kuasa tapi berpendidikan cetek," tulis Humari.
Duta Besar Kerajaan Arab Saudi Mustafa Bin Ibrahim al-Mubarak beberapa waktu lalu menampik imej warganya gemar menyiksa pembantu rumah tangga. Dia mengakui ada kasus seperti itu, tapi media dianggapnya membesar-besarkan masalah.
"Sebenarnya hanya masalah kecil, (mdk/ard)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya