Sandera hampir dibunuh ISIS, PM Jepang ogah bayar uang tebusan
Merdeka.com - Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe berjanji untuk melakukan segalanya demi membebaskan dua warganya yang jadi sandera kelompok Islam garis keras Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Namun menurut para ahli, dia hanya memiliki beberapa pilihan dengan waktu yang semakin sedikit.
Menurut para pengamat, Shinzo harus bisa tampil tangguh di depan para teroris untuk mengintimidasi mereka agar dua warga Jepang yang jadi sandera tidak dibunuh. Perkataan para ahli tersebut seperti yang dilansir dari tabloid Time, Rabu (21/1).
Pemerintah Jepang lainnya juga ingin sekali berbicara dengan para militan ISIS dan bernegosiasi agar warga mereka tidak dibunuh. Seperti mengutip pernyataan Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga pada kantor berita CNN. Dia mengatakan, "pemerintah akan melakukan yang terbaik untuk berkomunikasi dengan ISIS melalui pihak ketiga, seperti pemerintah atau penduduk setempat (Suriah)."
Yoshihide juga mengatakan Jepang tidak berniat membunuh orang-orang beragama Islam seperti yang dikatakan oleh penyandera. Menurutnya, mereka akan selalu melindungi warganya tak peduli dia beragama apa.
"Tak peduli mereka beragama apa, kami akan selalu melindungi warga kami. Oleh karena itu tuduhan si penyandera tidak benar, dan kami mendesak mereka untuk tidak menyakiti apalagi membunuh warga kami, kami minta mereka dilepaskan," katanya.
Saat ini pemerintah Jepang memang sedang berpacu dengan waktu untuk membebaskan dua warganya yang diculik dan disandera militan ISIS. Para ekstremis ini meminta tebusan Rp 2,5 triliun kepada pemerintah Jepang untuk membebaskan sanderanya dan diberi waktu selama 72 jam atau 3 hari.
"Yang sangat sulit adalah harus berlomba dengan waktu, namun seperti yang sudah saya bilang, kami (pemerintah) akan melakukan yang terbaik. Saya telah memerintahkan kepada pemerintah Jepang untuk menggunakan semua saluran diplomatik untuk menjamin pembebasan kedua warga kami tersebut," ujar Shinzo Abe kepada wartawan seperti yang dilansir dari surat kabar The Telegraph, kemarin.
PM Shinzo Abe sendiri yang pada saat kejadian tengah berada di Timur Tengah bergegas pulang dan mengatakan dirinya telah meminta bantuan dari Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi, Raja Yordania Abdullah, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
"Jepang tidak akan pernah menyerah kepada teroris. Jepang akan melakukan yang terbaik dalam pertempuran melawan pengecut (teroris), dengan cara bergandengan tangan bersama masyarakat dunia," kata Shinzo Abe.
Pernyataan Abe itu menurut Koichi Nakano, profesor ilmu politik di Universitas Sophia, Tokyo, berarti dia tidak akan membayar uang tebusan seperti yang diminta.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya