Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Saat saudara terbelah dua

Saat saudara terbelah dua aksi protes anti pemerintah ukraina. ©REUTERS/Stringer

Merdeka.com - Suatu pagi empat hari lalu di Ibu Kota Kiev, Ukraina, mayat warga menumpuk dua baris di Lapangan Merdeka dan di dekat kamp konsentrasi massa dikenal sebagai Maidan. Tempat itu serupa zona perang demi memenangkan suara negara itu harus bergabung dengan Uni Eropa.

Gejolak dimulai saat sang Presiden Viktor Yanukovych enggan bekerja sama soal ekonomi dengan negara-negara tergabung di Uni Eropa lantaran tak ingin mengkhianati hubungan dagang mesra bersama Rusia. Pengunjuk rasa yang awalnya berjumlah ratusan dalam dua bulan terakhir meningkat menjadi puluhan ribu. Bentrokan sering terjadi namun dua pekan terakhir puncaknya. Kedua pihak, pemerintah dan rakyat sama-sama jatuh korban, seperti dilansir majalah TIME (21/2).

Tak tahan dengan keadaan demikian, Yanukovych akhirnya mengumumkan gencatan senjata delapan hari lalu. Bukan kedamaian didapat, bentrokan semakin meluas. Bukan hanya di Kiev namun juga di tiga kota besar lain. Sang presiden menunjuk hidung oposisi dengan tudingan memanfaatkan masa runding demi mengumpulkan massa dan memperoleh senjata. "Kita di ujung perang saudara," demikian tulisan Yanukovych pada situs pemerintah.

Puluhan pengunjuk rasa bertopeng hitam dan dilengkapi senjata nampak terlihat berkeliaran di Maidan. Mereka ditempatkan pada garis depan demi memukul mundur satuan keamanan Ukraina. Situasi ini memaksa parlemen mengambil tindakan. Mereka memakzulkan Yanukovych dan menetapkan pemilihan umum pada 25 Mei.

Yanukovych tidak terima. Dia justru mempertahankan jabatan meski sudah banyak ditinggalkan sekutunya. "Protes itu kudeta para ekstremis. Saya presiden terpilih sah dan akan tetap menjalani posisi ini," ujarnya saat diwawancara salah satu stasiun televisi Rusia.

Namun parlemen bersikeras menjalani rencana dan mereka membubarkan diri serta membentuk pemerintahan sementara. Runtuhnya pemerintahan Kiev semakin memperuncing hubungan barat dengan Rusia. Negeri Beruang Merah bahkan berseru apa yang terjadi di negara sekutunya itu mengancam kedaulatan Ukraina.

Perang saudara itu nampaknya memang tinggal menunggu waktu. Ukraina sudah terpecah menjadi dua kekuatan wilayah besar. Mereka berada di timur setia pada Rusia sementara barat memilih Uni Eropa. Ibu Kota Moskow pun tegas, jika pertumpahan darah ini terjadi mereka siap membela warga yang tetap melabuhkan hatinya pada Istana Kremlin.

(mdk/din)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP