Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

"Rusia Tidak Menembak Warga Sipil, Hanya Nazi yang Melakukan Itu"

Mayat terbakar di Bucha Ukraina. ©Genya Savilov/AFP

Merdeka.com - Ivan Kononov, letnan senior di angkatan laut Rusia, suka memasak. Dia membuat makanan Italia untuk unitnya di lapangan, kata adiknya, dan memperdagangkan jatah rempah-rempah ketika dia bertugas di Suriah.

Adiknya, Aleksandr Kononov, terakhir kali melihatnya di kamar jenazah rumah sakit militer di kota Rostov-on-Don, Rusia, pada Maret. Letnan Ivan Kononov tewas dalam baku tembak di sebuah pabrik baja di Mariupol, Ukraina. Dia berusia 34 tahun.

Aleksandr mengenang saat dia berjalan di kamar jenazah itu, dia melewati gerbang terbuka sebuah gudang dan melihat puluhan kantong jenazah berwarna hitam berjejer di lantai.

Dalam wawancara melalui telepon, Aleksandr (32) mengatakan dia menyadari kakaknya tewas dalam perang itu "tidak dibutuhkan siapapun".

"Jika setiap orang mengetahui semuanya, akan ada protes," ujarnya, mengacu pada kesadaran publik Rusia pada umumnya.

"Dan menurut saya itu yang terbaik. Karena perang ini harus berhenti. Seharusnya tidak ada perang sama sekali," lanjutnya, dikutip dari The New York Times, Kamis (7/4).

Enam pekan setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menginvasi Ukraina, banyak orang Rusia yang tidak tahu seberapa besar kehilangan atau kerugian yang dialami negaranya, termasuk soal kekejaman militer mereka di negara tetangganya itu.

Namun, bagi orang Rusia lainnya, berita kematian prajurit Rusia yang tewas hanya memperkuat tekad untuk mengalahkan Ukraina dan mendukung Putin.

"Jika Amerika tidak memasok senjata ke Nazi Ukraina, maka tidak akan ada anak muda kita yang mati," kata Aleksandr Chernykh, yang kehilangan putranya yang berusia 22 tahun, Luka Chernykh, seorang kopral intelijen militer.

"Pendapat pribadi saya adalah kita harus menghantam Amerika dengan bom nuklir dan hanya itu, sehingga mereka berhenti terlibat dalam urusan negara lain," lanjutnya dalam wawancara telepon.

Bagi keluarga tentara, propaganda negara terus membawa pengaruh. Chernykh, yang putranya dibesarkan di sebuah kota kecil di Siberia dan meninggal ribuan mil di barat, dekat kota Konotop, Ukraina, mengatakan dia tidak menonton berita televisi. Namun, dia mengatakan Rusia memerangi Nazi yang dibantu AS dan dia menolak gagasan bahwa tentara negaranya harus bertanggung jawab atas kekejaman yang terungkap di Ukraina.

"Saya tahu spirit Rusia dan saya tahu bahwa orang Rusia tidak menembaki warga sipil," kata Chernykh, seorang insinyur, dalam sebuah wawancara telepon dari kota Krasnoyarsk, Siberia.

"Hanya Nazi yang bisa melakukan itu," tambahnya.

Di kota Siberia lainnya, Khanty-Mansiysk, perempuan 38 tahun bernama Alina - dia meminta nama belakangnya dirahasiakan - juga mengatakan dia percaya bahwa saudara laki-lakinya, seorang letnan kolonel, tewas melawan Nazisme.

Sambil menangis, dia mengatakan sekelompok kecil Nazi di Ukraina menyebabkan kesengsaraan dengan mendorong penganiayaan terhadap etnis Rusia. Menurutnya, itu semua seperti Perang Dunia II, ketika beberapa orang Ukraina berkolaborasi dengan Nazi — sebuah alur cerita yang disebarkan panjang lebar di televisi Rusia.

"Ini adalah pengulangan dari apa yang terjadi sebelumnya," katanya.

"Ini adalah pengulangan dari sejarah ini."

Menolak ikut perang

perang rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Sebuah survei baru-baru ini oleh lembaga jajak pendapat independen Levada menemukan 35 persen orang Rusia hanya sedikit atau tidak memperhatikan peristiwa di Ukraina; dan di televisi pemerintah, kematian tentara Rusia jarang disebutkan.

Rusia terakhir kali mengumumkan kematian dalam perang Ukraina pada 25 Maret, yang saat itu mencapai 1.351 korban jiwa. Pejabat AS bulan lalu memperkirakan korban jiwa dari pihak Rusia lebih dari 7.000.

Dengan meningkatnya kematian akibat perang, berita tentang bahaya pertempuran di Ukraina menyebar ke publik, dan bahkan ada kasus anggota militer yang mencoba menghindari pertempuran.

Mikhail Benyash, seorang pengacara di kota Krasnodar di selatan, mengatakan telah menerima lebih dari 100 permintaan dari militer Rusia dan anggota garda nasional tentang hak hukum mereka jika mereka menolak untuk berperang.

Dia mengatakan dia membela tiga anggota garda nasional yang memprotes pemecatan mereka karena menolak perintah untuk pergi ke Ukraina. Sembilan lainnya ditekan untuk membatalkan pengaduan.

"Mereka melihat tidak ada gunanya membunuh siapa pun," ujarnya tentang orang-orang Rusia yang menolak berperang.

"Ditambah lagi, mereka tidak melihat ada gunanya terbunuh."

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP