Rusia tak jamin terus di Suriah untuk lindungi kekuasaan Assad
Merdeka.com - Keterlibatan Rusia dalam konflik Suriah disebut intelijen Amerika Serikat sebagai upaya mempertajankan kekuasaan Presiden Bashar Al-Asaad. Negara-negara Barat meragukan militer Negeri Beruang Merah hendak menghambat pergerakan kelompok teroris seperti ISIS.
Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin membantah tudingan itu. Mengutip apa yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Konfrensi Vienna Summit Sabtu lalu, Rusia berkomitmen masuk ke Suriah untuk menggembosi kekuatan organisasi militan.
"Kami tidak pernah mengatakan bila Asaad harus tetap menjalankan roda pemerintahan atau sebaliknya," ujarnya di bilangan Jakarta Selatan, Kamis (5/11).
Rusia saat ini berfokus pada langkah ke depannya, yaitu memberantas kelompok terorisme. Dubes Galuzin juga menggaris bawahi bila keterlibatan militer mereka bukan untuk ikut dalam konflik internal Suriah. "Kami biarkan Rakyat Suriah memilih, siapa yang mereka dukung, yang dapat memberi kenyamanan dan rasa aman," jelasnya.
Akhir bulan lalu, serangan udara militer Rusia di Suriah mencetak rekor tertinggi kemarin (28/10). Kurang dari 24 jam, pesawat Rusia menghancurkan 118 basis teroris. Titik serangan itu berada di Provinsi Idlib, Homs, Hama, Aleppo, serta Latakia.
Namun, dari pantauan Intelijen Barat, dibanding menyerang ISIS, jet Rusia lebih fokus menghabisi markas Tentara Pembebasan Suriah (FSA), kelompok pemberontak Sunni yang didanai Amerika Serikat dan Arab Saudi.
Fasilitas yang dihancurkan jet Rusia adalah milik Front Jabhat al-Nusra, kelompok militan yang dekat dengan FSA. Gudang logistik al-Nusra di Talbisseh hancur akibat serangan rudal Rusia.
(mdk/ard)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya