Rundingkan konflik Suriah, Obama-Putin beda sikap soal rezim Assad
Merdeka.com - Rusia dan Amerika Serikat bersepakat terlibat menyudahi perang saudara di Suriah. Kedua pemimpin negara hegemon itu bertemu kemarin di sela Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, seperti dilansir oleh Channel News Asia (29/9).
Perundingan yang berlangsung selama 90 menit, antara Presiden Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin berujung pada kesepakatan agar negara-negara maju berupaya ekstra menahan laju setiap pasukan bersenjata di daerah konflik utama Suriah.
Militer Rusia yang kini jumlahnya bertambah di Syam dalam beberapa minggu belakangan, diminta AS dapat melakukan penghadangan itu.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Putin mengatakan militernya hadir mendukung pemerintahan Suriah dan etnis Kurdi dalam memerangi ISIS.

"Kami memikirkan hal terkait, tentang apa yang bisa diberikan dalam tujuan membantu mereka di medan perang, melawan teroris, dan terutama ISIS," ujar Putin terkait pengiriman pasukan Rusia di Suriah yang belakangan menjadi menjadi pertanyaan dunia.
"Dalam pertemuan ini ada sebuah peluang untuk melakukan perundingan masalah bersama," lanjut Putin mengacu pada perbincangannya dengan Obama.

Tapi kedua pemimpin masih berbeda pendapat soal dukungan buat Presiden Suriah Basyar al-Assad. Bagi Obama, rezim Assad tidak punya legitimasi lagi. Dalam pidato di Majelis Umum PBB, Obama menyebut Assad tiran "yang membunuh anak-anak."
Sebaliknya, Putin berkukuh mendukung Assad. Tanpa sang presiden dari kabilah Syiah Alawite itu, perlawanan terhadap ISIS akan mustahil. "Salah luar biasa kalau kita tidak bekerja sama dengan pemerintah Suriah melawan kelompok teroris," kata Putin.
Pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya mempertanyakan motivasi Rusia ngotot ingin mempertahankan Presiden Assad. Pemimpin Suriah itu adalah salah satu faktor yang membuat perang saudara berlanjut terus menerus. Musuh politiknya, selain ISIS, sudah terlalu banyak di dalam negeri.
"Rusia sudah sangat jelas mengerti kepentingan sebuah resolusi politik pada konflik Suriah dan bagaimana merujuk mencapai hal tersebut adalah dengan tidak lagi mendukung Assad," papar pejabat senior AS itu.

Beberapa raksasa Eropa mulai melunakkan sikap. Prancis misalnya, setuju Assad bertahan, tapi sifatnya sementara. Negeri Anggur pekan lalu sudah mulai terlibat operasi menggempur ISIS di Suriah.
Perang saudara sejak 2011 menewaskan lebih dari 200 ribu warga sipil di Suriah. Lebih dari empat juta warga terpaksa pindah, memicu krisis kemanusiaan besar imigran di Eropa beberapa bulan terakhir. Situasi makin runyam setelah ISIS datang dari Irak, merebut kota-kota sebelah utara Suriah. (mdk/ard)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya