Rumah Sakit di Jerman Kewalahan Hadapi Gelombang Covid-19, Pasien Dikirim ke Italia
Merdeka.com - Sebuah rumah sakit di Freising, Bavaria, Jerman, terpaksa harus memindahkan pasien Covid-19 ke Italia karena kamar rawat inap sudah terisi penuh dan kekurangan tenaga kesehatan.
Melalui pasang surut selama 18 bulan pandemi, Jerman sudah beberapa kali menerima pasien dari negara tetangga karena rumah sakit di tempat lain kehabisan kamar rawat inap.
Namun gelombang ganas keempat membuat kasus Covid-19 di Jerman mencapai rekor tertinggi hingga membuat rumah sakit di beberapa bagian negara itu kewalahan dan memaksa beberapa orang untuk mencari bantuan di tempat lain di negara Uni Eropa.
Meski jumlah pasien masih di bawah puncak setahun yang lalu, kali ini, rumah sakit juga kekurangan personel tenaga kesehatan.
"Minggu lalu, Rabu atau Kamis, kami harus memindahkan pasien dengan helikopter ke Merano," jelas Thomas Marx, 43 tahun, direktur medis di rumah sakit di Freising, sebuah kota dengan 50.000 penduduk.
"Kami tidak memiliki kapasitas lagi untuk menerima mereka, dan rumah sakit Bavaria di sekitarnya juga penuh," jelasnya seperti dilansir dari laman AFP, Kamis (18/11).
Rumah sakit juga harus mengirim pasien lain ke kota lain di Bavaria, Regensburg selama akhir pekan.
"Kami berada di batas kapasitas kami, itulah sebabnya kami harus menggunakan cara ini," jelasnya.
Tugas Marx menangani 13 kasus perawatan intensif saat ini. Lima di antaranya adalah pasien virus corona, yang semuanya belum divaksinasi.
Dengan tingkat vaksinasi Jerman yang bertahan di bawah 70 persen dalam beberapa pekan terakhir, pejabat kesehatan meminta warga untuk mau divaksin guna membendung lonjakan infeksi.
Kanselir Angela Merkel kemarin memohon kepada siapa pun yang belum divaksinasi untuk segera divaksin."Ketika cukup banyak orang yang divaksinasi, itulah jalan keluar dari pandemi," kata Merkel.
Hanya satu dari empat rumah sakit Jerman yang mampu mempertahankan layanan perawatan intensif reguler saat ini, kata majalah Spiegel. Banyak orang mengatakan permasalahan utama adalah kekurangan personel tenaga kesehatan yang terlatih.
Sudah menjadi masalah kronis sebelum pandemi, jam kerja yang panjang, upah rendah dan stres selama krisis Covid-19 hanya membuat lebih banyak orang kehilangan pekerjaan di sektor perawatan kesehatan.
"Saya mengagumi ketenangan staf yang beroperasi, yang dengannya kami menghadapi tantangan baru ini dengan profesionalisme seperti itu," jelas Marx.
"Tapi saya juga tahu beberapa orang, di dalam dirinya merasa sudah sangat kelelahan, meski mereka tidak memperlihatkannya."
Reporter Magang: Ramel Maulynda Rachma
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya